Tragedi di Stadion Kanjuruhan, Amnesty International Indonesia Desak Pemerintah Bentuk Tim Pencari Fakta

- Minggu, 2 Oktober 2022 | 13:54 WIB
Ratusan nyawa fans sepakbola melayang akibat kericuhan di stadion Kanjuruhan Malang usai tuan rumah Arema FC kalah 2-3 dari Persebaya di pekan ke-11 liga 1 2022/2023 (Foto: Dokumentasi Suara Merdeka Jakarta)
Ratusan nyawa fans sepakbola melayang akibat kericuhan di stadion Kanjuruhan Malang usai tuan rumah Arema FC kalah 2-3 dari Persebaya di pekan ke-11 liga 1 2022/2023 (Foto: Dokumentasi Suara Merdeka Jakarta)

MALANG, suaramerdeka-jakarta.com - Sepak bola Indonesia baru saja mengalami tragedi terburuk sepanjang sejarah, ratusan orang dinyatakan tewas akibat kerusuhan yang terjadi di Stadion Kanjuruhan, Malang, Jawa Timur setelah pertandingan Liga 1 antara Arema FC dan Persebaya pada hari Sabtu, 1 Oktober 2022, malam.

Menanggapi peristiwa mengenaskan tersebut. Amnesty International Indonesia sebagai organisasi non-pemerintah yang bergerak di bidang Hak Asasi Manusia (HAM) menyerukan agar pemerintah Indonesia segera mengusut tuntas segala hal yang terkait dalam kasus tersebut.

"Hak hidup ratusan orang melayang begitu saja pasca pertandingan bola, ini merupakan tragedi kemanusiaan yang menyeramkan sekaligus memilukan," kata Direktur Eksekutif Amnesty International Indonesia, Usman Hamid dalam sebuah pernyataan tertulis pada hari Minggu, 2 Oktober 2022.

Baca Juga: Podcast Disabilitas dapat Dimanfaatkan oleh Penyandang Disabilitas agar Lebih Produktif

Ia kemudian menyampaikan ucapan duka cita mendalam bagi keluarga korban tewas dan luka. Pihak Amnesty Indonesia berharap semua korban yang masih dalam perawatan bisa lekas pulih dan kondisinya semakin membaik.

Usman lalu mengatakan bahwa kekuatan berlebihan yang dilakukan oleh aparat keamanan dalam usaha mengendalikan massa tidak dapat dibenarkan. "Harus diusut tuntas, bila perlu bentuk segera Tim Gabungan Pencari Fakta," tegasnya.

Menurutnya, tragedi di Kanjuruhan ini hampir sama dengan tragedi sepak bola di Peru pada tahun 1964 yang menewaskan lebih dari 300 orang karena pengendalian massa yang menggunakan kekuatan berlebih. Diketahui, pada kejadian 58 tahun lalu tersebut, aparat keamanan juga menembakkan gas air mata ke arah penonton untuk mengendalikan massa yang rusuh.

Baca Juga: Mantan Kiper Timnas Indonesia Angkat Bicara soal Kerusuhan Arema vs Persebaya

"Peristiwa di Peru dan di Malang tidak seharusnya terjadi jika aparat keamanan memahami betul aturan penggunaan gas air mata. Tentu kami menyadari bahwa aparat keamanan sering menghadapi situasi yang kompleks dalam menjalankan tugas mereka, tapi mereka harus memastikan penghormatan penuh atas hak untuk hidup dan keamanan semua orang, termasuk orang yang dicurigai melakukan kerusuhan," lanjut Usman.

Halaman:

Editor: Budi Nugraha

Sumber: Amnesty International

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Komentar PSSI Usai Gagal Jadi Host Piala Asia 2023

Senin, 17 Oktober 2022 | 22:05 WIB

Suporter Harus Lebih Adem Jelang Laga Persib vs Persija

Jumat, 30 September 2022 | 16:43 WIB
X