Ekonomi Indonesia Sudah Melemah Sebelum Pandemi

- Rabu, 13 Oktober 2021 | 22:10 WIB
Ekonom Faisal Basri dalam diskusi Gelora Talk bertema Covid-19 dan Ancaman Kebangkrutan Dunia Usaha, Rabu (13/10). (Saktia Andri Susilo)
Ekonom Faisal Basri dalam diskusi Gelora Talk bertema Covid-19 dan Ancaman Kebangkrutan Dunia Usaha, Rabu (13/10). (Saktia Andri Susilo)

 

JAKARTA, jakarta.suaramerdeka.com - Ekonom senior Faisal Basri mengatakan, pertumbuhan ekonomi Indonesia sudah melemah sebelum ada pandemi Covid-19. Dimana pertumbuhan pada era Presiden Joko Widodo yang pertama, sekitar 5 persen.

 

Kemudian di era kedua sekitar 4,5 persen. Sehingga, jangan menyalahkan pandemi, karena ada yang salah," katanya dalam diskusi Gelora Talk bertema Covid-19 dan Ancaman Kebangkrutan Dunia Usaha, Rabu (13/10).

 

Menurutnya, pemerintah harus mengusahakan agar ekonomi">pemulihan ekonomi didahulukan. Dimana mayoritas rakyat terperangkap dalam kondisi terpuruk. Indikasinya adalah jumlah orang kaya meningkat di tengah pandemi.

 

Dimana orang yang kekayaannya di atas 1 juta dolar AS, naik dari 106.216 menjadi 171.740 orang. Selain itu, ketimpangan menjadi-jadi semakin naik. Dimana konsentrasi kekayaan di Indonesia adalah nomor tujuh terburuk di dunia.

 

"Orang-orang kaya itu juga masih getol untuk menyimpan uangnya di bank. Dimana pertumbuhan orang yang menaruh uang di bank jauh lebih tinggi dibanding kredit yang diberikan oleh bank. Hal itu menunjukkan indikasi yang unik," ucapnya.

 

Ketimpangan itu terlihat dari 1 persen orang yang menguasai 44 persen orang lain dan ada 10 persen orang yang menguasai 74 persen lainnya. Dimana 2/3 orang terkaya itu, memperoleh kekayaannya didapat dari bisnis kroni.

 

"Orang yang bermodal otot, keringat dan kekuasaan. Jadi bukan olah otak, namun mereka semakin merajalela. Mereka bermain di sawit, batubara, besi dan baja," ucapnya. Sementara, para pejabat juga makin kaya di era pandemi.

 

Dimana 58 persen menteri kekayaannya bertambah di atas Rp 1 miliar; 26 persen di bawah Rp 1 miliar dan hanya 3 persen yang melaporkan kekayaannya turun. "Yang terjadi adalah value extraction, bukan value creation. Value extraction semakin mendominasi dan ditopang oleh kekuasaan. Dengan angka penduduk insecure 81,9 persen, maka konsep pembangunan gagal mengangkat mayoritas rakyat Indonesia. Sehingga, mayoritas rakyat masih insecure," jelasnya.

 

 

Halaman:

Editor: Arif Muhammad Iqbal

Tags

Terkini

DPR Targetkan Revisi UU Migas Akhir 2022

Selasa, 30 November 2021 | 19:45 WIB

Shopee Fashion Week Gelar Diskon Hingga 50%

Selasa, 30 November 2021 | 11:14 WIB
X