Industri Logam dan Baja Tumbuh Kian Moncer

- Sabtu, 22 Januari 2022 | 10:24 WIB
Dok
Dok

Jakarta - Kinerja sektor industri logam dan baja mengalami pertumbuhan positif berdasarkan dengan indikasi rata-rata Purchasing Manager Index (PMI) selama 2021 bahkan menunjukkan angka ekspansif diatas 50.

Direktur Industri Logam, Ditjen ILMATE Kemenperin, Budi Susanto, menjelaskan pertumbuhan positif sektor baja akibat upaya pengendalian yang dilakukan Pemerintah dengan smart supply demand yang diterapkan dengan berpihak ke industri baja nasional dari hulu hingga hilir, meskipun di bulan November-Desember terjadi penyesuaian tata cara importasi yang dikeluarkan Kementerian Perdagangan yaitu Permendag 20/2021 melalui single windows INSW.

"Peningkatan kebutuhan baja ini didukung kebijakan PPnBM otomotif yang juga tumbuh hingga 27% di kuartal III tahun 2021 namun membutuhkan baja khusus untuk sektor otomotif yang belum bisa dipenuhi oleh pabrikan dalam negeri," kata Budi Santoso dalam pernyataannya, Jumat, 21 Januari 2022.

"Pengaturan ini menjadi penting agar produk-produk yang sudah diproduksi di dalam negeri dapat dimaksimalkan dan hampir semua impor yang ada merupakan bahan baku untuk berbagai jenis industri," sambungnya.

Sementara itu, Direktur Utama PT Saranacentral Bajatama Tbk (BAJA), Handjaja Susanto menyampaikan salah satu keberhasilan BAJA memperoleh laba bersih 100 miliar rupiah berkat kontrol pemerintah terhadap impor baja, sehingga pasar impor banyak beralih ke pasar lokal.

"Optimisme industri baja nasional ini terus dijaga dengan upaya hilirisasi dan subtitusi impor yang telah dicanangkan oleh pemerintah. Dengan demikian iklim usaha dan investasi akan terus meningkat di Indonesia," katanya.

Dia menjelaskan, menurut data investasi di sektor logam menunjukkan kinerja yang cukup menggembirakan, hingga triwulan III tahun 2021 mencapai Rp. 87,73 Triliyun serta utilisasi sektor ini mencapai diatas 60% dan industri baja lapis meningkat sangat baik seperti yang ditunjukkan PT saranacentral Bajatama.

Sebelumnya, Direktur Komersial Krakatau Steel, Melati Sarnita, mengatakan berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), terjadi kenaikan impor baja sebesar 23% yang semula 3,9 juta ton di tahun 2020 menjadi 4,8 juta ton di tahun 2021.

Sebaliknya, Direktur Eksekutif Research Oriented Development Analysis (RODA) Institute, Ahmad Rijal Ilyas mengatakan untuk melihat perbandingan data baja tersebut disarankan tak hanya menggunakan data tahun 2020.

Halaman:

Editor: Arif Muhammad Iqbal

Tags

Terkini

Parlemen Dorong Peningkatan Konsumsi B30

Rabu, 14 September 2022 | 08:30 WIB

Upods Indonesia Luncurkan Produk Terbaru

Minggu, 22 Mei 2022 | 20:53 WIB
X