Tingginya Harga Komoditas, Peluang bagi Petani

- Jumat, 27 Mei 2022 | 22:21 WIB
Menteri Perdagangan Muhammad Lutfi saat menjadi panelis dalam diskusi yang diadakan oleh Channel News Asia (CNA), bertema The Biggest Trade Deal in the World. (World Economic Forum)
Menteri Perdagangan Muhammad Lutfi saat menjadi panelis dalam diskusi yang diadakan oleh Channel News Asia (CNA), bertema The Biggest Trade Deal in the World. (World Economic Forum)

DAVOS, suaramerdeka-jakarta.com - Tingginya harga komoditas dunia saat ini, dinilai sebagai peluang bagi para petani di negara-negara berkembang besar. Antara lain seperti Indonesia, India, Brasil dan Tiongkok.

“Sehingga dapat menikmati keuntungan lebih. Ini ekuilibrium baru dalam perdagangan komoditas pangan dunia,” kata Menteri Perdagangan Muhammad Lutfi dalam keterangan tertulis Kementerian Perdagangan, Jumat (27/5).

Hal itu disampaikan Mendag di sela-sela World Economic Forum dalam diskusi panel yang diadakan oleh Channel News Asia (CNA) Singapura bertema The Biggest Trade Deal in the World di Davos, Swiss. Menurutnya, hal itu jangan dirusak dengan menyalahkan salah satu negara. Misalnya Tiongkok, karena posisi dagang yang kurang menguntungkan.

“Bahaya kalau beberapa negara maju berkelompok untuk membenarkan standar ganda,” ujarnya. Dimana yang dimaksud standar ganda olehnya adalah negara-negara yang sudah maju, menyalahkan dan mengganggu perdagangan bebas dunia.

Terutama ketika mereka kurang diuntungkan posisi dagangnya terhadap suatu negara tertentu. Padahal, dahulu ketika posisi dagang mereka diuntungkan sehingga petani di Amerika Serikat, Eropa, dan Jepang makmur, semua negara berkembang dipaksa membuka pasar mereka.

“Sehingga, harus ada kebersamaan dan kesetaraan kesempatan dalam perdagangan bebas dunia. Regional Comprehensive Economic Partnership (RCEP) benar-benar bisa menjadi solusi nyata bagi perekonomian dunia yang dilanda inflasi tinggi saat ini,” tandasnya.

Proteksionisme
Kondisi tersebut diakibatkan oleh hambatan perdagangan dunia. Hal itu disebabkan proteksionisme dan perang dagang, serta tidak berfungsinya Organisasi Perdagangan Dunia (WTO) sebagaimana mestinya.

“Ketika negara-negara yang sudah maju menerapkan standar ganda, WTO justru tidak berkutik,” tegasnya

Mendag sempat berdebat cukup tegang dengan panelis lainnya. Yaitu CEO Suntory Holdings Takeshi Niinami. Dimana dia menyatakan pesimis dengan situasi perdagangan dunia saat ini, karena Tiongkok saat ini menutup pasarnya.

Halaman:

Editor: Arif Muhammad Iqbal

Tags

Terkini

‘LUCKY BUNDLE’, Spot Belanja Unik di Kawasan Serpong

Selasa, 27 September 2022 | 18:39 WIB

TEGUK Resmi Buka Outlet di New York Amerika Serikat

Selasa, 27 September 2022 | 11:44 WIB
X