Eks Petinggi CIMB Sekuritas Harap Keadilan Pasca Denda BEI Rp12,5 miliar

- Selasa, 1 November 2022 | 07:54 WIB
Mantan petinggi PT CGS-CIMB Sekuritas Indonesia, Imelda R. Tarigan  (Istimewa )
Mantan petinggi PT CGS-CIMB Sekuritas Indonesia, Imelda R. Tarigan (Istimewa )

JAKARTA, Jakarta.Suaramerdeka.com,-Mantan petinggi PT CGS-CIMB Sekuritas Indonesia, Imelda R. Tarigan menuntut keadilan setelah dipersalahkan sebagai yang menyebabkan Bursa Efek Indonesia mendenda ACS (Alternate Cash Settlement) senilai Rp12,5 miliar pada pertengahan Agustus 2016.

Diketahui BEI mendenda berupa ACS kepada PT CGS-CIMB Sekuritas Indonesia akibat kegagalan menyerahkan saham dalam perdagangan transaksi pembelian saham PT Bank Pembangunan Daerah Banten Tbk (BEKS) yang sepenuhnya dilakukan melalui sistem remote trading. Denda ACS tersebut disinyalir sebesar Rp 12.5 miliar.

Baca Juga: Polri, Sampai Kapan Kau Terus Merendahkan Dirimu Sendiri?.

“BEI sejak tahun 2002 menerapkan sistem remote trading yang menempatkan broker hanya menawarkan transaksi saham yang tertera pada sistem secara otomatis. Namun kesalahan sistem yang terjadi pada 10 Agustus 2016 itu ditimpakan seluruhnya kepada klien kami” tutur Ricky Iramoty, Kuasa Hukum Imelda R. Tarigan, Senin (31/10).

Imelda R. Tarigan adalah mantan Senior Vice President Branch Manager PT CGS-CIMB Sekuritas Indonesia untuk cabang Kelapa Gading dan Pondok Indah. Bersama Imelda, tiga broker pelaksana pembelian saham BEKS yakni Firdaus Ali, M. Erwin Simanjuntak dan Hasrul Saputra dipersalahkan PT CGS-CIMB Sekuritas Indonesia.

Baca Juga: Ferdy Sambo dan Kekuasaan.

“Sudah jelas transaksi saham BEKS tersebut dilakukan oleh ketiga karyawan CGS atas perintah nasabah. Menjadi persoalan adanya dugaan kesalahan pada sistem remote trading PT CGS-CIMB Sekuritas Indonesia dimana seharusnya transaksi saham BEKS tersebut tidak dapat terjadi karena saham BEKS yang ditransaksikan belum tersedia dan mengakibatkan terjadinya gagal serah kepada pembeli,” lanjutnya.

Seperti diketahui PT CGS-CIMB Sekuritas Indonesia pada waktu itu menggunakan system trading S21 Back Office System. Sistem ini terhubung dengan Jakarta Automated Trading System (JATS), sistem terkomputerisasi yang diterapkan di BEI sejak 2002.

Baca Juga: Ferdy Sambo dan Wajah Kepolisian Kita

Halaman:

Editor: Budi Nugraha

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X