Energi Terbarukan dari Sawit Menjanjikan di Tengah Krisis

- Kamis, 3 November 2022 | 19:58 WIB
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto. (Biro KLIP Kemenko Perekonomian)
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto. (Biro KLIP Kemenko Perekonomian)

JAKARTA, suaramerdeka-jakarta.com - Upaya substitusi bahan bakar fosil dengan biodiesel sawit, green fuel lainnya dan petrokimia dengan oleokimia berbasis sawit, merupakan strategi yang akan membuat industri sawit lebih layak di tengah krisis.

"Hingga tahun 2022, Indonesia masih menerapkan B30. Saat ini, Harga Indeks Pasar (HIP) biodiesel lebih rendah daripada HIP Solar," kata Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga beberapa waktu lalu.

Karenanya, dia mendorong substitusi bahan bakar fosil dengan energi hijau. Antara lain seperti dari sawit.

Sementara itu, pengamat energi Komaidi Notonegoro mengatakan, saat ini telah melakukan uji jalan (road test) penggunaan Bahan Bakar Nabati (BBN) jenis biodiesel. Yakni dengan campuran 40 persen atau disebut B40 pada kendaraan bermesin diesel.

"Karena serapannya terus naik. Produk biodiesel terbukti diminati oleh masyarakat, sehingga terus dilakukan inovasi baru seperti B40," ujarnya.

Pemberlakuan B40 merupakan salah satu upaya strategis negara untuk mengurangi impor Bahan Bakar Minyak (BBM). Sekaligus mengimplementasikan bauran energi Baru Terbarukan (EBT).

Dijaga
Selain itu, Pertamina sedang mengembangkan biogasoline. Karenanya, Komaidi mengingatkan agar ketika nantinya produk ini sudah digunakan oleh masyarakat, harus dijaga ketersediaannya.

"Perlu diperhatikan secara keberlanjutan pasokan. Karena kelapa sawit trade off dengan kebutuhan lain, misalnya minyak goreng dan produk turunan lainnya," tandas Direktur Eksekutif Reforminer Institute tersebut

Contohnya, saat ini Pertamina tengah mengkaji produk biogasoline. Namun, Pertamina meminta agar ada kepastian keberlanjutan suplai minyak sawitnya (Crude Palm Oil/CPO).

"Pemerintah bisa mencari alternatif energi hijau lain, tidak berat ke sawit saja. Juga perlu menyeimbangkan dengan potensi lain, sehingga pemerintah fokusnya jangan hanya berat ke kelapa sawit," tegasnya.

Hal itu karena kebutuhan kelapa sawit bukan cuma untuk biodiesel, tetapi ada kebutuhan lain. Harus berpikir untuk mengembangkan EBT yang lain, misalnya panas bumi.

Sementara itu, Direktur Eksekutif Segara Institut Piter Abdullah mengungkapkan, industri sawit berkelanjutan bertumpu pada kesungguhan dan keseriusan. Khususnya dalam menjaga lingkungan agar tetap mampu menopang indutri sawit.

Kondusif
Dia menambahkan, pengertian dari berkelanjutan dalam industri kelapa sawit adalah adanya upaya sungguh-sungguh. Terutama untuk menjaga lingkungan agar tetap kondusif bagi kelangsungan perkebunan sawit.

"Pemerintah juga harus memanfaatkan peluang ekonomi kawasan. Hal itu untuk semakin mendorong tercapainya industri sawit berkelanjutan," tuturnya.

Halaman:

Editor: Arif Muhammad Iqbal

Tags

Terkini

Strategi BNI Genjot Pertumbuhan Kredit Ekspor

Jumat, 24 Maret 2023 | 19:46 WIB

Menko Luhut Harap e-Paspor Diterapkan di Korea

Jumat, 24 Maret 2023 | 18:57 WIB
X