Penerapan SCR, Teknologi Mutakhir Kurangi Emisi PLTU

- Minggu, 13 November 2022 | 22:30 WIB
Direktur Eksekutif Energy Watch Mamit Setiawan dan Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi), teknologi Selective Catalytic Reduction (SCR) sejauh ini menjadi teknologi yang paling bisa diandalkan untuk mengurangi emisi dan polusi udara dari PLTU. (Screenshoot instagram@mininginsustry.id)
Direktur Eksekutif Energy Watch Mamit Setiawan dan Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi), teknologi Selective Catalytic Reduction (SCR) sejauh ini menjadi teknologi yang paling bisa diandalkan untuk mengurangi emisi dan polusi udara dari PLTU. (Screenshoot instagram@mininginsustry.id)

 

JAKARTA,suaramerdeka-jakarta.com- Upaya mencari teknologi yang tepat untuk mengurangi emisi dari Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) terus digaungkan sejumlah pihak. Kian kemari, teknologi yang hadir pun terus berkembang dan makin mumpuni untuk mengurangi emisi dari PLTU secara signifikan.

Seperti yang diungkapkan Direktur Eksekutif Energy Watch Mamit Setiawan dan Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi), teknologi Selective Catalytic Reduction (SCR) sejauh ini menjadi teknologi yang paling bisa diandalkan untuk mengurangi emisi dan polusi udara dari PLTU.

Menurut Manajer Kampanye Energi dan Perkotaan Eksekutif Nasional Walhi Dwi Sawung, dari beberapa teknologi untuk mengurangi polusi udara, SCR bisa dikatakan menjadi yang terdepan.

"SCR salah satu yang terkini, sebenarnya banyak. Nah, dia itu (SCR) fungsinya untuk mengurangi nitrogen oksida (NOx)," ujarnya pada minggu (13/11).

Baca Juga: Great Eastern Life Indonesia dan Bank OCBC NISP Adakan Kelas Literasi Keuangan untuk Pasangan Muda

Dengan SCR, NOx akan tereduksi. Misalnya dari angka 100 ke atas, bisa turun hingga 50 ke bawah. Dari angka-angka tersebut, dinilau SCR mampu menurunkan angka NOx yang terbilang besar.

Ia menjelaskan, penerapan SCR pada PLTU saat ini memang sangat diperlukan. Alasannya, karena polusi udara di bumi sudah tinggi. Di negara maju, seperti Jerman, Amerika Serikat, China, dan Jepang teknologi SCR sudah sekian lama diterapkan.

Sementara Mamit Setiawan menuturkan, penerapan teknologi SCR ataupun Carbon Caputure (CCUS), bagi banyak kalangan memang bukan dianggap sebagai green energy. Teknologi ini, lanjutnya, merupakan pengembangan dari teknologi dalam rangka mengurangi gas karbon.

“Tapi mengingat untuk pensiun dini pembangkit itu butuh biaya besar, maka pemanfaatan teknologi yang bisa mengurangi karbon, saya kira bagus.

Apalagi 2060 kita menuju NZE yang mana energi fosil sebagai energi primer ini bisa dikurangi atau bahkan di hilangkan dan diganti dengan EBT,” tuturnya.

Halaman:

Editor: Arief Sinaga

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Obaja Tour Buka Cabang Baru

Rabu, 25 Januari 2023 | 13:36 WIB

PT DEP Gelar National Convention Ke-4.

Senin, 5 Desember 2022 | 10:27 WIB

Industri Biodiesel Sudah Ikuti Aturan Pemerintah

Selasa, 15 November 2022 | 23:45 WIB

Penerapan SCR, Teknologi Mutakhir Kurangi Emisi PLTU

Minggu, 13 November 2022 | 22:30 WIB
X