Satu dari Lima Anak Muda Sering Merasa Depresi

- Jumat, 26 November 2021 | 09:37 WIB
 
 
Jakarta, suaramerdeka-jakarta.com - Kesehatan mental merupakan salah satu isu yang belum terselesaikan di tengah masyarakat tingkat Global maupun Nasional. Dampak pandemi COVID-19 berkepanjangan menjadi tantangan permasalahan kesehatan mental akan semakin berat untuk diselesaikan. Menurut UNICEF secara global dalam laporan The State of the World’s Children 2021, terdapat 1 dari 5 anak muda responden usia 15-24 tahun menyatakan sering merasa depresi yang berdampak pada rendahnya minat untuk berkegiatan. Sementara itu 29% anak muda di Indonesia sering merasa tertekan atau memiliki sedikit minat untuk melakukan kegiatan. Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa Indonesia (PDSKJI) menyatakan sebanyak 68% dari 1.522 responden mengaku mengalami gangguan kecemasan.
 
Generasi muda yang didominasi oleh milenial dan Z memiliki karakter yang unik yakni idealis, kompetitif, aktualisasi diri yang tinggi, dan ambisius. “Mereka adalah generasi yang penuh kreatifitas dan ide-ide besar. Karena keunikan karakteristiknya, mereka punya tantangan tersendiri yakni adanya krisis dari dalam diri sehingga menimbulkan rasa kecemasan. Situasi ini diperberat dengan adanya pandemi COVID-19 berkepanjangan, sehingga berdampak pada kehidupan mereka sehari-hari," kata ngkap Erwin Parengkuan, Founder dan CEO dari TALKINC.
 
Gangguan kecemasan dapat diukur dari beberapa faktor seperti rasa kebingungan, banyak pertanyaan, keraguan, merasa di posisi yang tidak aman dan membandingkan kehidupan. Penderita gangguan kecemasan juga berdampak pada berkurangnya rasa percaya diri, mudah marah, stres, sulit berkonsentrasi dan menjadi penyendiri.
 
“Tanpa dipungkiri bahwa pandemi ini menjadi hantaman psikologi yang cukup berat bagi kita semua khususnya generasi milenial dan Z. Disaat mereka sedang tumbuh dan berkembang mengejar target-target mereka, lalu dihadapkan dengan situasi yang tidak menentu dalam waktu yang panjang. tersebut membentuk rasa kecemasan terlebih bagaimana mereka mampu menghadapi situasi kedepannya, apakah masih ada kesempatan untuk mengejar target dan sebagainya.” ujar Tara de Thouars selaku Psikolog Klinis.
 
 
Untuk dapat mengatasi gangguan kecemasan diperlukan faktor eksternal dan internal Secara eksternal generasi muda dapat dimulai dari membentuk lingkungan sosial yang sehat dan saling mendukung. Secara internal dimulai dari mengenali diri, harga dan merubah cara berfikir yang lebih positif. “Cara sederhana dalam meminimalisir kecemasan yaitu kita perlu memahami bahwa kecemasan hanya pikiran and tidak merepresentasikan kenyataan. Coba untuk fokus pada kehidupan saat ini, dan mencoba berdamai pada sesuatu hal yang tidak pasti. Hal terpenting adalah belajar menerima kenyataan, dan berhenti untuk membandingkan diri kita dengan orang lain” tambah Thara.
 
TALKINC turut ambil bagian dalam mengatasi gangguan kecemasan dengan memberikan edukasi melalui pelatihan webinar, sehingga diharapkan mampu memberikan dorongan kepada generasi muda untuk dapat menggali potensi diri yang lebih dalam untuk mendobrak batasan imajinasi. Wujud komitmen TALKINC dalam menyuarakan semangat bagi masa depan mental dan Pendidikan anak-anak di Indonesia salah satunya melalui donasi kepada SOS Children’s Villages sebesar Rp 50.000.000,-.
 
“Mari bersama-sama kita ciptakan lingkungan yang sehat dan pola hidup seimbang untuk menjaga kesehatan mental. Melalui mental yang sehat, diharapkan generasi muda siap menyambut Indonesia Emas 2045 dengan menghadirkan imajinasi tanpa batas” tutup Erwin.

Editor: Arif Muhammad Iqbal

Tags

Terkini

Satu dari Lima Anak Muda Sering Merasa Depresi

Jumat, 26 November 2021 | 09:37 WIB

Gaya Hidup Sehat Ubah Tekanan Darah Kembali Normal

Jumat, 19 November 2021 | 19:42 WIB

Ikuti Cara ini, Perut, Paha dan Betis Akan Mengecil

Jumat, 19 November 2021 | 13:47 WIB
X