Unilever dan Waste4Change Aktifkan Digitalisasi Pendataan dan Penelusuran Sampah Plastik

- Jumat, 10 Juni 2022 | 21:29 WIB
Webinar bertajuk “Bicara Sirkular Ekonomi: Pentingnya Data dan Traceability Sampah Plastik”, Kamis (9/6).  (Dokumentasi)
Webinar bertajuk “Bicara Sirkular Ekonomi: Pentingnya Data dan Traceability Sampah Plastik”, Kamis (9/6). (Dokumentasi)

JAKARTA, suaramerdeka-jakarta.com, Untuk mendukung ekonomi sirkular, PT Unilever Indonesia dan Waste4Change menghadirkan sebuah proyek berbasis digital: DIVERT. Proyek ini dikembangkan oleh Waste4Change, perusahaan pengelola sampah secara bertanggung jawab, atas pendanaan dari Unilever Global melalui program TRANSFORM.

Head of Sustainable Environment, Unilever Indonesia Foundation Maya Tamimi menyampaikan sejalan dengan tema Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2022 yaitu ‘One Earth’, pihaknya ingin kembali mengajak semua pihak untuk turut serta ambil bagian, berperan secara aktif sesuai dengan perannya masing-masing untuk bersama-sama menjaga bumi.

"Sebagai perusahan yang telah berada di Indonesia selama lebih dari 88 tahun, kami memiliki komitmen kuat untuk menciptakan bumi yang lestari, sejalan dengan startegi besar Unilever yang dinamakan ‘The Unilever Compass’," kata Maya dalam webinar bertajuk “Bicara Sirkular Ekonomi: Pentingnya Data dan Traceability Sampah Plastik”, Kamis (9/6).

Acara ini mengangkat tantangan yang dihadapi oleh sejumlah pihak dalam merealisasikan ekonomi sirkular di Indonesia, serta betapa pendataan maupun penelusuran alur sampah plastik menjadi aspek yang krusial.

Saat ini permasalahan lingkungan yang dihadapi bumi sangatlah beragam, salah satunya permasalahan sampah plastik yang sangat pelik. Di Indonesia, 4,8 juta ton sampah plastik tidak terkelola dengan baik tiap tahun, seperti dibakar di ruang terbuka (48%), tidak dikelola secara layak di tempat pembuangan sampah resmi (13%), dan sisanya mencemari saluran air dan laut (9%).

Penerapan ekonomi sirkular dipercaya banyak pihak sebagai salah satu upaya yang dapat membantu menyelesaikan permasalahan sampah plastik di Indonesia. Namun penerapan di lapangan tentu tidak mudah, peran serta semua pihak dan sinergi dari semua aktor dalam mata rantai daur ulang harus digalakkan, agar sampah sebagai bahan daur ulang dapat dikumpulkan kembali dan diproses menjadi produk daur ulang atau proses pengelolaan lainnya.

Baca Juga: Keren, Film Satria Dewa: Gatotkaca Terbang ke Malaysia dan Amerika utara

Waste4Change memandang, kurangnya data di fase pengumpulan sampah plastik salah satunya menyebabkan masih adanya gap yang besar antara sampah plastik yang diproduksi, yang saat ini didaur ulang, dan yang berpotensi untuk didaur ulang. Hal ini turut berdampak ke pihak produsen seperti Unilever, di mana data yang belum memadai mengakibatkan rantai pasok daur ulang yang ada saat ini menjadi panjang dan belum efisien.

Diperlukan upaya yang lebih besar agar dapat memperoleh bahan baku dari plastik daur ulang dalam jumlah signifikan untuk dapat diolah menjadi kemasan kembali.

Halaman:

Editor: Arif Muhammad Iqbal

Tags

Terkini

Toko Sepeda Rodalink Tambah Cabang di Yogyakarta

Selasa, 26 Juli 2022 | 12:45 WIB

Umi Kalsum; Si Penunggang Kuda dan......

Rabu, 22 Juni 2022 | 10:21 WIB

United Bike Rilis Sepeda Edisi Khusus G20

Minggu, 12 Juni 2022 | 10:33 WIB

Berhalal bi Halal sambil Bersepeda

Jumat, 20 Mei 2022 | 13:52 WIB
X