Yuk Mulai Gaya Hidup Ramah Lingkungan Demi Kurangi Emisi Karbon

- Minggu, 27 November 2022 | 21:47 WIB
Dokumentasi (Dokumentasi)
Dokumentasi (Dokumentasi)

 

JAKARTA, suaramerdeka-jakarta.com, Salah satu dampak perubahan iklim yang mulai dapat dirasakan adalah meningkatnya suhu di bumi sehingga menyebabkan timbulnya dampak kesehatan, ketahanan pangan serta kesejahteraan bagi manusia. Berbagai upaya terus didorong untuk memitigasi dampak ini, salah satunya dengan bertransformasi ke gaya hidup yang lebih ramah lingkungan.

Berbagai komitmen telah disepakati, diantaranya melalui Conference of Parties (COP) 21 di Paris yang berambisi menekan emisi karbon serendah-rendahnya sehingga tingkat pemanasan global tidak lebih dari 1,5 derajat Celcius. Namun sejauh ini komitmen yang disepakati oleh COP masih belum dapat mencapai target dan perubahan iklim menjadi isu yang sangat mengkhawatirkan.

CEO Carbon Ethics Agung Bimo Listyanu dalam sesi diskusi tentang dampak perubahan iklim di ajang IDEAFEST 2022 mengatakan peningkatan tambahan 0,5 °C ke target pemanasan 2 °C menyebabkan lebih dari 15% area daratan global terpapar tingkat tekanan panas yang mempengaruhi kesehatan manusia.

"Peningkatan paparan terhadap ancaman kesehatan, kebakaran hutan, tekanan panas tanaman dapat dihindari dengan membatasi pemanasan global hingga 1,5 °C, bukannya 2 °C. Fakta yang ada di lapangan tentang mitigasi perubahan iklim saat ini masih jauh dari komitmen yang disepakati. Sebagai contoh, setiap menit kita telah kehilangan area hutan seluas 10 lapangan sepak bola, padahal hutan memegang peranan penting dalam menyerap kembali emisi karbon dari atmosfer," bebernya, Sabtu, 26 November 2022.

Di tingkat masyarakat, tambahnya, keinginan untuk hidup yang serba praktis juga meningkatkan konsumsi energi, penggunaan bahan bakar fosil dan penggunaan kemasan plastik sekali pakai.

Karena itu, ia menggaungkan gaya hidup ramah lingkungan dari hal kecil dan dimulai dari diri sendiri. Misalnya, dengan hal-hal sederhana seperti menggunakan transportasi publik, memilih travelling dengan kereta ketimbang pesawat yang memiliki emsisi karbon tinggi, hingga mengurangi masak air.

"Gunakanlah galon guna ulang daripada memasak air karena itu menciptakan emisi karbon juga," tambahnya.

Menurutnya, emisi karbon yang dihasilkan dari kehidupan manusia yaitu dari sektor produksi, konsumsi, dan transportasi perlu dikelola dengan usaha untuk terus menguranginya. "Kami dari Carbon Ethics selalu menempatkan diri sebagai mitra yang tepat bagi sektor bisnis maupun individu yang ingin memberikan kontribusi yang nyata terhadap perubahan iklim dan usaha-usaha mereka untuk melakukan konservasi iklim”, lanjut Bimo.

Baca Juga: Gus Halim: Penanggulangan Gempa Cianjur Boleh Pakai Talangan Dana Desa

Halaman:

Editor: Arif Muhammad Iqbal

Tags

Terkini

Tantangan Dunia Perbukuan di Era Digitalisasi

Kamis, 12 Januari 2023 | 09:17 WIB

Faber-Castell Gelar "Colour to Life Competition 2022"

Senin, 21 November 2022 | 21:47 WIB
X