Remy Sylado dan Joko Pinurbo Lelang Puisi

- Kamis, 28 Oktober 2021 | 11:56 WIB
Joko Pinurbo (Istimewa)
Joko Pinurbo (Istimewa)

JAKARTA, Jakarta.Suaramerdeka.com,- Sebanyak 11 puisi yang dibuat oleh enam penyair kenamaan Tanah Air bakal dibacakan oleh tokoh dan pejabat negara. Puisi itu karya Remy Sylado, Joko Pinurbo, Acep Zamzam Noor, Inggit Putria Marga, Sihar Ramses Simatupang, dan Iwan Jaconiah.

Remy Sylado akan melelang tiga puisinya yakni Penyair Indonesia, Senja di Kamar, dan Aku Dengar Suara yang Lain. Joko Pinurbo akan melelang Malam Rindu, Acep ZamZam Noor akan melelang Amanat Galunggung, Inggit Putria Marga akan melelang Pekarangan, Sihar Ramses Simatupang melelang puisi Di Cawan Terakhir, dan terbanyak Iwan Jaconiah yang akan melelang empat puisinya yakni Indonesia Sejati, Sajak Untuk Ibu, Asing di Negeri Orang, dan Secangkir Kopi Luwak.

Baca Juga: Tujuan dan Perjalanan

Seluruh puisi tersebut ditulis tangan yang kemudian dibingkai dengan didampingi ilustrasi khusus yang dibuat oleh ilustrator sekaligus kartunis Media Indonesia peraih penghargaan Anugerah Jurnalistik Adinegoro 2017, Budi Setyo Widodo.

Puisi bisa jadi menjadi medium yang tepat untuk menyampaikan potret dengan cara humor, satir dan kemanusiaan,. Joko Pinurbo juga menyambut baik perkembangan keberagaman puisi di masa kini. "Puisi Indonesia sekarang semakin bervariasi, semarak, dibanding misalnya pada zaman saya. Sekarang ini banyak penyair yang menunjukkan corak yang berbeda-beda satu dengan yang lain, warna lokal misalnya mulai diolah kembali oleh penyair daerah. Panorama semakin meriah. Saya juga ternyata menulis beberapa puisi tentang demokrasi mungkin itu yang jarang diperhatikan," kata Joko Pinurbo di Jakarta.

Pandemi, bagi Jokpin, demikian dia sering disapa, merasa merasa pandemi tidak mengubah karakter puisinya, tapi memberi waktu lebih banyak untuk melakukan kontemplasi berbagai persoalan hidup yang di saat normal mungkin terlewati. "Sekarang kita punya sunyi yang luas dan dalam," katanya.

Sementara bagi Inggit Putria Marga melihat perkembangan puisi yangtidak jauh berbeda dengan Jokpin, "Saya melihat lebih semarak juga, munculnya diksi yang lebih bebas, kata-kata gaul juga banyak diolah. Ada juga puisi yang mengombinasi dengan bahasa ibu. Ini layak untuk dihargai juga."

Baca Juga: Santri Celeng, Sajak Asu

Bagi Inggit, pandemi justru melahirkan kemeriahan yang berbeda. Inggit biasanya menggarap puisi dalam sunyi di rumah. Namun pandemi justru membuat kesunyiannya di rumah terusik karena semua orang ada di rumah dan riuh. Hal ini diakuinya menjadi distraksi dan memengaruhi karya puisinya.

Halaman:

Editor: Budi Nugraha

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Made Kaek Datang, Chiang Mai Guncang.

Sabtu, 12 November 2022 | 22:40 WIB

Penyair Tua Membaca Batin Rohani Melalui Karya Puisi

Sabtu, 22 Oktober 2022 | 07:21 WIB

Mengenalkan Bahasa Inggris Lewat Cerita Rakyat

Minggu, 16 Oktober 2022 | 13:02 WIB

Festival Seni Bali Jani Dimulai Hari Ini.

Senin, 10 Oktober 2022 | 06:27 WIB

Annie Ernaux: Kekuatan Menulis yang Membebaskan

Jumat, 7 Oktober 2022 | 20:45 WIB

Menulis Puisi Memang Tak Pernah Mati

Minggu, 2 Oktober 2022 | 11:29 WIB

Arch Hades dan Gelombang Penyair Instagram

Selasa, 27 September 2022 | 14:02 WIB

Arch Hades, Penyair Termahal Sepanjang Masa

Selasa, 27 September 2022 | 13:47 WIB
X