Arch Hades dan Gelombang Penyair Instagram

- Selasa, 27 September 2022 | 14:02 WIB
Penyair Arch Hades.  (Sumber: BBC)
Penyair Arch Hades. (Sumber: BBC)

 

Oleh Ready Susanto, penulis sejumlah buku

Fenomena “puisi termahal sepanjang masa” karya Arch Hades ternyata bagian dari suatu gelombang kemunculan penyair Instagram. Siapa sajakah mereka?

Setelah karyanya makin dikenal orang, Arch Hades mulai bermitra dengan Andrés Reisinger. Karyanya yang berjudul Arcadia diberi ilustrasi dan ditawarkan dalam lelang di Balai Lelang Christie di New York pada November 2021 sebagai sebuah karya seni. Bukan berupa buku bersampul kulit atau manuskrip yang tebal melainkan dalam bentuk animasi abstrak sepanjang 9 menit 48 detik dengan iringan music elektronik karya musisi RAC.

Arcadia, kumpulan puisi itu, merupakan “kolaborasi seni NFT lintasdisiplin pertama yang masuk balai lelang”, begitu siaran pers menyebutnya. Dengan harga yang diketok sebesar 525.000 dolar (sekitar 8 miliar rupiah), membuat Arch Hades dinobatkan sebagai “penyair dengan bayaran termahal sepanjang sejarah”. Videonya kemudian ditampilkan di Palazzo Strozzi di Florence, dan pada musim gugur puisi ini juga diterbitkan dalam bentuk buku.  Puisi The Story of Arcadia yang terdiri dari 648 baris persajakan, membahas mengenai krisis eksistensial, keterasingan, dan kecemasan pada abad ke-21.

Dalam lima baris sajak berima, Arcadia adalah seruan keputusasaan kontemporer: “Aku ingin keluar dari ini labirin/mematikan semua skrin/Bebas dari simulakrum/yang membuat manusia jadi mesin.” Karya puisi ini menampilkan media dan nada yang baru bagi seorang penyair yang memiliki satu juta pengikut di Instagram dan telah menerbitkan tiga buku, yang puisi-puisinya berkisah tentang kekasih yang hilang, malam-malam musim semi, dan pertanyaan-pertanyaan tentang hak-hak istimewa. Puisi-puisi ini mengeksplorasi filsafat.

Baca Juga: Arch Hades, Penyair Termahal Sepanjang Masa

Hades menulis Arcadia selama lebih dari sebulan pada masa kuncitara (lockdown) dan memutuskan untuk mengubahnya dalam bentuk NFT Bersama RAC, seorang temannya, saat menghadapi tur buku yang dibatalkan. “Tiba-tiba kami tersadar, sialan, kami harus bisa menghasilkan uang entah bagaimana caranya.” Mereka membuat kartupos NFT yang memuat kata-katanya; menghasilkan 71.410 dolar (artinya 4.200 dolar per kata—sekitar 1 milyar rupiah total, berarti 63 juta rupiah per kata) menyebabkan mereka bertanya-tanya bisakah mereka membuat “proyek khusus” lainnya yang bisa diubah menjadi NFT.

Arcadia saat itu sudah siap untuk digunakan; sebuah video yang mengeksplorasi beberapa visualisasi kunci (sebuah gelas terisi separonya, apel merah yang mengkilap) sudah dikerjakan; dan seorang sahabat yang bekerja di Christie mengatur pertemuan dengan orang yang tepat. Beberapa bulan kemudian pelelangan dimulai, dan Arcadia jatuh ke tangan seorang kolektor. “Dengan Arcadia, para seniman telah menetapkan standar baru naratif dan emosi dalam karya seni berbasis NFT,” kata Noah Davis, saat itu menjabat kepala penjualan digital Christie. 

Halaman:

Editor: Budi Nugraha

Sumber: opini

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Made Kaek Datang, Chiang Mai Guncang.

Sabtu, 12 November 2022 | 22:40 WIB

Penyair Tua Membaca Batin Rohani Melalui Karya Puisi

Sabtu, 22 Oktober 2022 | 07:21 WIB

Mengenalkan Bahasa Inggris Lewat Cerita Rakyat

Minggu, 16 Oktober 2022 | 13:02 WIB

Festival Seni Bali Jani Dimulai Hari Ini.

Senin, 10 Oktober 2022 | 06:27 WIB

Annie Ernaux: Kekuatan Menulis yang Membebaskan

Jumat, 7 Oktober 2022 | 20:45 WIB

Menulis Puisi Memang Tak Pernah Mati

Minggu, 2 Oktober 2022 | 11:29 WIB

Arch Hades dan Gelombang Penyair Instagram

Selasa, 27 September 2022 | 14:02 WIB

Arch Hades, Penyair Termahal Sepanjang Masa

Selasa, 27 September 2022 | 13:47 WIB
X