Menulis Puisi Memang Tak Pernah Mati

- Minggu, 2 Oktober 2022 | 11:29 WIB

peluk daun pintu itu
ke dalam bantal mimpimu
menguras serat-serat kayunya dengan pahat air lidah

(maka kita akan dibawa ke pulau-pulau tirani, di sana kaum kapitalis lebih menghargai ilmu pengetahuan ketimbang engkau rajin mencari kotak-kotak surat yang doyan berenang tiap musim berganti)

kemudian akan dibalasnya
secepat kilat listrik
mainan kanak-kanak, perangkat komputer, minyak birahi, hingga laporan basi dari negeri-negeri miskin

lalu putar skrupnya
dengan obeng jantungmu
diselingi tukar pikiran

(mengenai malapetaka rumah ibadah, bungkuskan jadi kado mungil, sebelum engkau buka gemetar kunci daun pintu itu )

setelah itu jadilah tangis rutin
di kamar mandi sampai mencair dari geraham sakit gigi
tak berarti apa-apa
kembali membatu
untuk kita yang muntah mujizat

Jakarta, September 2022

DONGENG ITU KALAH

kalian hanya butuh sebuah pistol kerdil
ketika otak rubayan mulai ditumbuhi saham dua puluh persen
dilepas sauh dari bukit-bukit yang purba

kupilih melarikan diri
gempa bumi di negeri sendiri
ialah ketololan mengapa tak kunjung ke pesta perkawinan
om kusen membangun rumah sakit diabetes melitus
dan tante rina menggores kelamin mabuk

Halaman:

Editor: Budi Nugraha

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Mudji Sutrisno: Amrih Mulya Asma Dalem Gusti.

Sabtu, 31 Desember 2022 | 10:10 WIB

Estetika Ted van der Hulst di Museum ARMA.

Senin, 26 Desember 2022 | 06:37 WIB

Made Kaek Datang, Chiang Mai Guncang.

Sabtu, 12 November 2022 | 22:40 WIB

Penyair Tua Membaca Batin Rohani Melalui Karya Puisi

Sabtu, 22 Oktober 2022 | 07:21 WIB

Mengenalkan Bahasa Inggris Lewat Cerita Rakyat

Minggu, 16 Oktober 2022 | 13:02 WIB

Festival Seni Bali Jani Dimulai Hari Ini.

Senin, 10 Oktober 2022 | 06:27 WIB
X