Menulis Puisi Memang Tak Pernah Mati

- Minggu, 2 Oktober 2022 | 11:29 WIB

"sudah ada pertemuan terakhir, menunggu persekot," jawab telepon nyaring

beberapa kuli disket bolak-balik
ke markas guna persiapan perang primitif
kendati masih kabar burung-burung unta yang diperas dari dalam perut laut

jemu kukabarkan lewat suara pesawat angin
lebih beruntung bersekutu dengan perompak ?
airmata terus mengalir
suara ketukan bambu
sudah mundur konglomerasi itu

Jakarta, September 2022

OBSESI BERGUGURAN

perkawinan mencapai titik beku
pada roh Tuhan kami ganjil
menghitung musibah dari waktu
ke pot-pot bunga berduri

pemabuk bunuh diri
di atas hamparan tanah gambut
tancapkan jantung runcing

ribuan batu disedot dari dubur
salju yang menyumbat kelamin
melambungkan angan-angan
menuju ranjang pohon jati
yang tumbuh mandul

mondar-mandir makan onderdil mobil
engkau menjilat-jilat darah
otak terbakar
hampir meledak ayat-ayat suci
titipan pendeta enam tahun silam

papan catur yang selalu dikirim lewat faksimile
terkubur rapi dalam sajak lumpuh tempo waktu
bahkan ratusan kode pos membunuh dengkur tidur
tak pernah hadir lagi

Halaman:

Editor: Budi Nugraha

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Mudji Sutrisno: Amrih Mulya Asma Dalem Gusti.

Sabtu, 31 Desember 2022 | 10:10 WIB

Estetika Ted van der Hulst di Museum ARMA.

Senin, 26 Desember 2022 | 06:37 WIB

Made Kaek Datang, Chiang Mai Guncang.

Sabtu, 12 November 2022 | 22:40 WIB

Penyair Tua Membaca Batin Rohani Melalui Karya Puisi

Sabtu, 22 Oktober 2022 | 07:21 WIB

Mengenalkan Bahasa Inggris Lewat Cerita Rakyat

Minggu, 16 Oktober 2022 | 13:02 WIB

Festival Seni Bali Jani Dimulai Hari Ini.

Senin, 10 Oktober 2022 | 06:27 WIB
X