Annie Ernaux: ‘Menulis Membuka Mata terhadap Kesenjangan Sosial’

- Jumat, 7 Oktober 2022 | 20:37 WIB
Annie Ernaux, peraih Nobel Sastra 2022. (Sumber: LA Times)
Annie Ernaux, peraih Nobel Sastra 2022. (Sumber: LA Times)

Annie Ernaux, penulis Prancis berusia 82 tahun, meraih Hadiah Nobel Sastra tahun ini. Apa pertimbangan dari Tim Akademi Swedia? Berikut ini cuplikan keterangan dari Anders Olsson, Ketua Komite Nobel, Akademi Swedia, dari situs Hadiah Nobel.

 

Penulis Prancis Annie Ernaux lahir pada 1940 dan dibesarkan di kota kecil Yvetot di Normandia, tempat orangtuanya mengelola toko barang kebutuhan sehari-hari dan sebuah kafe. Berasal dari latar belakang keluarga yang miskin namun bercita-cita tinggi, orangtua Ernaux berhasil mengangkat taraf hidup mereka menjadi sebuah keluarga kelas menengah. Dalam karya-karyanya, Ernaux secara konsisten dan dari sudut pandang yang berbeda, mengkaji kehidupan yang ditandai dengan disparitas yang kuat mengenai gender, bahasa dan kelas. Dia menempuh jalan kepenulisan yang panjang dan sulit.

Kerja ingatan yang terkait dengan latar belakang pedesaan telah muncul lebih awal dalam karya-karyanya yang berusaha memperluas batas-batas sastra di luar fiksi dalam arti yang sempit. Terlepas dari gaya klasik dan khas yang dimilikinya, Ernaux menyatakan bahwa dirinya lebih tepat disebut “ahli etnologi dirinya sendiri” daripada seorang penulis fiksi. Dia sering mengacu pada A la recherche du temps perdu karya Marcel Proust, tetapi dia juga sangat terkesan oleh seorang sosiolog seperti Pierre Bourdieu.

Baca Juga: Annie Ernaux Raih Nobel Sastra 2022

Ambisi untuk merobek selubung fiksi telah membawa Ernaux ke rekonstruksi metodis masa lalu, tetapi juga pada upaya untuk menulis jenis prosa “mentah” dalam bentuk buku harian, mencatat peristiwa-peristiwa yang murni eksternal. Kita melihat ini dalam buku-buku seperti Journal du dehors (1993; Exteriors, 1996) atau La vie extérieure 1993–1999 (2000; Things Seen, 2010).

Karya pertama Annie Ernaux adalah Les armoires vides (1974; Cleaned Out, 1990), yang telah menampakkan pencariannya terhadap latar belakangnya sebagai orang Normandia. Tetapi adalah buku keempatnya, La place (1983; A Man's Place, 1992), yang memperlihatkan terobosan sastra. Dalam beberapa ratus halaman, secara netral dia telah berhasil menggambarkan ayahnya dan seluruh lingkungan sosial yang secara fundamental membentuk ayahnya.

Gambaran itu secara estetika terkendali dan termotivasi secara etis, di mana gayanya telah ditempa dengan keras dan transparan. Karya ini menandai serangkaian prosa otobiografi yang berada satu langkah di luar dunia imajiner fiksi. Bahkan jika masih ada suara naratif, suara itu tidak memihak dan sedapat mungkin dianonimkan. Selain itu, Ernaux telah menyisipkan perenungan tentang tulisannya, menjauhkan dirinya dari “puisi kenangan” dan menganjurkan une écriture plate: tulisan polos yang dalam solidaritas terhadap ayahnya telah menunjukkan dunia dan bahasanya.

Baca Juga: Arch Hades, Penyair Termahal Sepanjang Masa

Halaman:

Editor: Budi Nugraha

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Mudji Sutrisno: Amrih Mulya Asma Dalem Gusti.

Sabtu, 31 Desember 2022 | 10:10 WIB

Estetika Ted van der Hulst di Museum ARMA.

Senin, 26 Desember 2022 | 06:37 WIB

Made Kaek Datang, Chiang Mai Guncang.

Sabtu, 12 November 2022 | 22:40 WIB

Penyair Tua Membaca Batin Rohani Melalui Karya Puisi

Sabtu, 22 Oktober 2022 | 07:21 WIB

Mengenalkan Bahasa Inggris Lewat Cerita Rakyat

Minggu, 16 Oktober 2022 | 13:02 WIB
X