Hari Bendera Tatar Krimea dan Pengusiran Muslim oleh Rusia

- Kamis, 23 Juni 2022 | 18:42 WIB
Bagi Isa Akayev, 26 Juni adalah tanggal yang selalu menggetarkan perasaannya. Untuk warga Tatar Krimea yang terusir dari kampung halamannya di Krimea, menyusul pencaplokan wilayah yang dilakukan Rusia pada 2014 itu, tanggal tersebut selalu dan tetap akan memberinya bara semangat untuk kembali (Istimewa )
Bagi Isa Akayev, 26 Juni adalah tanggal yang selalu menggetarkan perasaannya. Untuk warga Tatar Krimea yang terusir dari kampung halamannya di Krimea, menyusul pencaplokan wilayah yang dilakukan Rusia pada 2014 itu, tanggal tersebut selalu dan tetap akan memberinya bara semangat untuk kembali (Istimewa )

JAKARTA, Jakarta.Suaramerdeka.com,—Bagi Isa Akayev, 26 Juni adalah tanggal yang selalu menggetarkan perasaannya. Untuk warga Tatar Krimea yang terusir dari kampung halamannya di Krimea, menyusul pencaplokan wilayah yang dilakukan Rusia pada 2014 itu, tanggal tersebut selalu dan tetap akan memberinya bara semangat untuk kembali.

"Saya hanya ingin pulang ke rumah, ke Krimea,"kata Akayev, Muslim berusia 57 tahun, ayah 13 anak yang selalu berbicara dengan lembut, yang membedakannya dengan warga Ukraina umumnya. “Bahkan elang pun punya sarang,”kata dia,”kami yakin, pada saatnya akan kembali pulang.”

Tanggal 26 Juni adalah hari perayaan bagi warga Ukraina, khususnya warga Semenanjung Krimea. Hari itu dirayakan sebagai Hari Bendera Tatar Krimea berdasarkan keputusan Sidang III Kurultay Tatar Krimea pada 29 Agustus 2010. Pemerintah Ukraina menghormati dan ikut menetapkan hari itu sebagai hari besar.

Baca Juga: Penerimaan; Kepada Ridwan Kamil dan Atalia Praratya

Akun Telegram Kantor Kepresidenan Ukraina, tahun lalu menyatakan, tanggal itu adalah momen penting bari seluruh rakyat Ukraina untuk mengingat rakyat Krimea yang berjuang di bawah bendera Tatar Krimea. Berjuang demi hak mereka untuk mengidentifikasi dan menyatakan keberadaan diri.

“Pemulihan hak-hak orang Tatar Krimea sebagai penduduk asli Ukraina akan menjadi manifestasi nyata dari keadilan sejarah,”kata Kantor Kepresidenan Ukraina dalam sebuah pernyataan, tahun lalu. “Kami akan melakukan segala kemungkinan untuk hal ini.” Saat itu Krimea sudah dicaplok Rusia dengan sewenang-wenang, dan warganya--kaum Tatar Krimea yang mayoritas Muslim--kembali terbuang dari tanah kelahiran. ‘’Kembali”, karena bukan sekali itu orang-orang Rusia datang, merampas tanah dan hak milik mereka, mengusir Muslim Tatar keluar Krimea.

Pada 2014 itu Akayev sekeluarga segera pindah ke Kyiv, ibukota Ukraina. Dengan restu pemerintah, ia membentuk batalion Krimea, sebuah unit kecil yang didominasi kaum Tatar Krimea, kelompok Muslim Turki yang berasal dari semenanjung Laut Hitam.

Baca Juga: Che dan Borobudur

Begitu pada 24 Februari lalu Rusia melakukan invasi ke Ukraina, 50 orang dari unitnya—termasuk Akayev, segera mengambil peran dalam pertempuran di sekitar wilayah Kyiv. Setelah pasukan Rusia terhalau mundur, kini batalion itu dikerahkan ke front selatan, untuk berperang di wilayah Kherson yang berbatasan dengan Krimea.

Halaman:

Editor: Budi Nugraha

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Ukraina Didorong Ciptakan Perdamaian dengan Rusia

Rabu, 5 Oktober 2022 | 22:37 WIB
X