Hari Bendera Tatar Krimea dan Pengusiran Muslim oleh Rusia

- Kamis, 23 Juni 2022 | 18:42 WIB
Bagi Isa Akayev, 26 Juni adalah tanggal yang selalu menggetarkan perasaannya. Untuk warga Tatar Krimea yang terusir dari kampung halamannya di Krimea, menyusul pencaplokan wilayah yang dilakukan Rusia pada 2014 itu, tanggal tersebut selalu dan tetap akan memberinya bara semangat untuk kembali (Istimewa )
Bagi Isa Akayev, 26 Juni adalah tanggal yang selalu menggetarkan perasaannya. Untuk warga Tatar Krimea yang terusir dari kampung halamannya di Krimea, menyusul pencaplokan wilayah yang dilakukan Rusia pada 2014 itu, tanggal tersebut selalu dan tetap akan memberinya bara semangat untuk kembali (Istimewa )

Saat ini target untuk merebut kembali Krimea itu terlihat lebih sulit dari sebelumnya, setelah sebagian besar wilayah Kherson jatuh ke dalam cengkeraman Rusia yang tak pernah terpuaskan akan wilayah. Saat ini pasukan Ukraina terdorong mundur lebih dari 100 km (60 mil) dari semenanjung.

Tetapi kejatuhan sebagian Kherson pun terbukti membawa kebaikannya sendiri. “Kejatuhan wilayah itu mendorong orang-orang Muslim Tatar untuk bergabung bersama kami,”kata Akayev. Ia mensyukuri hikmah itu, dan kian yakin bahwa di balik segala kesulitan, ada kebaikan, yang mungkin tersembunyi.

Baca Juga: Petrus

Aneksasi dan pengusiran Muslim Krimea
Banyak orang Tatar menentang pencaplokan Krimea oleh Moskow, yang berjalan seiring penggulingan presiden Ukraina yang pro-Kremlin pada 2013-2014 itu.

Kecurigaan kaum Muslim Tatar terhadap Moskow sendiri memiliki akar yang teramat dalam. Diktator Uni Soviet, Josef Stalin, telah memerintahkan deportasi massal warga Tatar Krimea yang mayoritas Muslim--kakek-nenek Akayev-- pada tahun 1944, setelah melancarkan tuduhan keji sebagai alaan pembenar, yakni bekerja sama dengan Nazi Jerman.

Kaum Muslim Tatar hanya diizinkan Kembali, dan praktis yang datang adalah anak keturunan—pada 1980-an, seperti yang dilakukan Akayev dengan pulang dari Uzbekistan pada 1989. Saat itu banyak yang menyambut runtuhnya Uni Soviet pada 1991 itu sebagai saat pembebasan.

Yakin bahwa di bawah Moskow yang ada hanya penindasan, Akayev sekeluarga pindah ke Kyiv pada 2014, di saat Rusia datang menganeksasi Krimea. Dan apa yang dikhawatirkan banyak Muslim Tatar Krimea pun terjadi.

"Tatar Krimea lebih menderita di bawah pendudukan Rusia, sehingga mereka merasa lebih dekat dengan kami," kata Muaz, seorang dari etnis Kabardian di Kaukasus Utara Rusia, yang justru bergabung dengan batalion Krimea setahun lalu.

Moskow, berbeda dengan berita-berita PR yang dilansir media Rusia, pada tahun 2016 melarang Mejlis, sebuah badan yang mewakili Muslim Tatar Krimea. Sebuah laporan Perserikatan Bangsa-Bangsa pada tahun 2017 menuduh Rusia melakukan pelanggaran hak asasi manusia "berat" di Krimea, termasuk menjadikan Muslim Tatar sebagai sasaran intimidasi, penggeledahan rumah, dan penahanan.

Moskow tentu saja menolak laporan PBB tersebut. Mereka mengatakan, referendum Maret 2014 itu melegitimasi "penggabungan" Krimea menjadi bagian Rusia.

Halaman:

Editor: Budi Nugraha

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Hubungan Indonesia - Kamboja Perlu Ditumbuhkan

Jumat, 25 November 2022 | 19:49 WIB

Krisis di Myanmar Berpotensi Ganggu Stabilitas Kawasan

Kamis, 24 November 2022 | 16:11 WIB
X