Hari Bendera Tatar Krimea dan Pengusiran Muslim oleh Rusia

- Kamis, 23 Juni 2022 | 18:42 WIB
Bagi Isa Akayev, 26 Juni adalah tanggal yang selalu menggetarkan perasaannya. Untuk warga Tatar Krimea yang terusir dari kampung halamannya di Krimea, menyusul pencaplokan wilayah yang dilakukan Rusia pada 2014 itu, tanggal tersebut selalu dan tetap akan memberinya bara semangat untuk kembali (Istimewa )
Bagi Isa Akayev, 26 Juni adalah tanggal yang selalu menggetarkan perasaannya. Untuk warga Tatar Krimea yang terusir dari kampung halamannya di Krimea, menyusul pencaplokan wilayah yang dilakukan Rusia pada 2014 itu, tanggal tersebut selalu dan tetap akan memberinya bara semangat untuk kembali (Istimewa )

Jangan berpikir mudah saja membangun Batalion Krimea seperti yang dilakukan Akayev. Awalnya, ide itu ditolak pasukan keamanan Ukraina. "Itu sangat sulit, banyak orang Ukraina tidak mempercayai Muslim, dan terutama Tatar Krimea. Semua orang mengira kami akan menjadi separatis," kata Akayev.

Tetapi ketika kaum separatis yang didukung Rusia mengangkat senjata melawan Ukraina di wilayah Donbas timur pada 2014, semua itu berubah.

Kelompok Akayev diizinkan untuk mendaftar sebagai unit sukarelawan, di bawah Kementerian Dalam Negeri Ukraina. Mereka bertempur sengit dalam konflik berikutnya, dengan tiga orang anggota terluka. Dua bulan lalu mereka menandatangani kontrak untuk menjadi unit penuh tentara Ukraina.

Lusinan batalyon sukarelawan lainnya bermunculan mulai tahun 2014, dan segera membantu tentara reguler Ukraina yang tidak siap untuk berperang di Donbas. Di antara mereka termasuk dua unit battalion Muslim Chechnya, dan satu Georgia.

Menariknya, batalion Akayev itu pun menarik masuknya orang-orang ke dalam Islam. "Inti unit ini adalah (orang-orang Krimea) karena mereka ingin membebaskan semenanjung mereka. Tetapi tidak ada aturan kaku bahwa battalion hanya boleh untuk orang-orang Krimea," kata Serhiy, seorang Ukraina yang masuk Islam pada tahun 2004 dan kini bahkan menjadi imam unit tersebut.

Namun memang aturan Islam ketat terjaga di battalion itu. Misalnya, anggota non-Muslim pun diharuskan mengikuti aturan tertentu, termasuk larangan minum alkohol.

Seorang staf presiden Ukraina pada Maret lalu mengatakan bahwa batalyon sukarelawan tersebut sekarang berjumlah lebih dari 100 personel. Pemerintah Ukraina merayakan mereka sebagai pahlawan.

Rusia sendiri hanya punya kalimat pedas tentang unit Tatar Krimea tersebut. Menteri Luar Negeri Rusia, Sergei Lavrov, berkata di awal-awal invasi, bahwa memberikan pelontar roket anti-pesawat yang disandang di bahu kepada para sukarelawan itu hanya menjadi bukti dari sikap "psikosis militeristik"-nya Ukraina.

Tapi, apa yang salah dengan semangat orang tertindas untuk melawan? Dan tampaknya, Ukraina akan tetap mempertahankan wilayah Krimea, dan merebutnya merupakan tugas mulia bagi seluruh warga negara itu.

“Krimea adalah Ukraina. Kami tidak akan menyerahkan wilayah kedaulatan kami demi perdamaian dengan Rusia,”kata Kementerian Luar Negeri Ukraina dalam sebuah pernyataan, baru-baru ini. Itu adalah jawaban atas usulan mantan Menlu AS, Henry Kissinger, dalam World Economic Forum di Davos, Swiss, bulan lalu. “Tujuan Ukraina tidak akan berubah: memulihkan integritas teritorial di dalam perbatasannya, yang diakui secara internasional. Kami berjuang untuk setiap warga negara Ukraina yang ditahan secara ilegal oleh otoritas pendudukan Rusia di Krimea dan akan terus berusaha keras untuk membawa mereka kembali ke rumah.”

Halaman:

Editor: Budi Nugraha

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Hubungan Indonesia - Kamboja Perlu Ditumbuhkan

Jumat, 25 November 2022 | 19:49 WIB

Krisis di Myanmar Berpotensi Ganggu Stabilitas Kawasan

Kamis, 24 November 2022 | 16:11 WIB
X