Ada Diplomasi Tangan di Atas Dalam Kunjungan Jokowi ke Ukraina

- Kamis, 30 Juni 2022 | 16:23 WIB
Algooth Putranto (Budi Nugraha)
Algooth Putranto (Budi Nugraha)

Bagi penyuka sejarah internasional, “diplomasi tangan di atas” Indonesia bukan hal yang baru. Dulu ada Kerja Sama Selatan-Selatan (KSS) yang dihasilkan Konferensi Asia Afrika (KAA). Bentuknya macam-macam dan belum terkoordinasi secara administrasi. Salah satu yang penulis kerap dengar adalah mengajari orang-orang Afrika bertani.

Nah, sebelum diterbitkannya PP Nomor 45 Tahun 2013 tentang Tata Cara Pelaksanaan APBN maka Kuasa Pengguna Anggaran (KPA) dan penanggung jawab pemberian hibah ke luar negeri berada di masing-masing Kementerian atau Lembaga.

Sejak diberlakukannya PP tersebut, maka penganggaran belanja hibah tunai luar negeri harus dilakukan oleh Menteri Keuangan dan pelaksanaannya dilakukan secara langsung melalui transfer dari rekening Kas Negara ke rekening penerima bantuan hibah. Lebih rapi.

Sumber utama pendanaan LDKPI adalah alokasi dana abadi dari APBN yang akan ditempatkan  pada instrumen investasi dengan risiko yang terukur, misalnya pada instrumen investasi perbankan, pasar modal, dan/atau surat berharga negara.

Penempatan dana untuk investasi ini juga dapat dilakukan oleh pihak ketiga untuk meningkatkan hasil investasi yang dilakukan. Lalu berapa modal Indonesia Aid? Ada dana abadi yang akan dialokasikan sampai dengan tahun 2024 berjumlah total Rp 10 Triliun. Besar? Jangan membandingkan dengan lembaga bantuan negara maju!

Meski kecil, Indonesia—diam-diam--sudah bisa membantu negara lain. Tahun 2020 baru ada tiga negara yang dibantu yakni Fiji (Rp23,66 miliar, Kepulauan Solomon (Rp2,88 miliar) dan Timor Leste (Rp2,88 miliar)

Tahun lalu, meski Indonesia ngos-ngosan didera pandemic Covid-19, jumlah negara yang dibantu semakin banyak yakni Mozambik (Rp2,16 miliar), Zimbabwe (Rp2,16 miliar), Antigua Barbuda (Rp 1,27 miliar), India (Rp7,83 miliar), Madagaskar (Rp2,23 miliar), Papua Nugini (Rp3,6 miliar), Suriname (Rp1,46 miliar), Afghanistan (Rp2,19 miliar), Palau (Rp7,26 miliar), Timor Leste (Rp120 juta) dan Saint Vincent dan Grenadine (Rp1,73 miliar).

Tahun ini? Sudah bisa dipastikan#Ukraina masuk dalam daftar alokasi Indonesia Aid. Lalu apa untungnya? Diplomasi 'tangan di atas' tidak saja persuasi menggunakan mulut tapi juga nyata dijalankan secara bersama-sama.

Dan sebagai bantuan--seperti halnya lembaga bantuan asing yang lain--adalah pintu masuk produk pemberi bantuan dan menanamkan pengaruh ke negara yang mendapat hibah tersebut. Jika ini konsisten dijalankan, Merah Putih akan eksis di tempat-tempat yang strategis di masa depan.

Halaman:

Editor: Budi Nugraha

Sumber: Opini Tokoh

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Hubungan Indonesia - Kamboja Perlu Ditumbuhkan

Jumat, 25 November 2022 | 19:49 WIB

Krisis di Myanmar Berpotensi Ganggu Stabilitas Kawasan

Kamis, 24 November 2022 | 16:11 WIB
X