Invasi rusia Bawa Dunia ke Tubir Kelaparan: Posisi Indonesia Dinilai Rawan

- Sabtu, 23 Juli 2022 | 13:57 WIB
Siluette pasukan Ukraina di garda depan pertempuran menghadapi gempuran Rusia (Screenshoot instagram/@zelenskiy_official)
Siluette pasukan Ukraina di garda depan pertempuran menghadapi gempuran Rusia (Screenshoot instagram/@zelenskiy_official)

JAKARTA, Jakarta.Suaramerdeka.com,—Di era yang menurut futurolog Jepang Kenichi Ohmae borderless word ini, di mana jalin-kelindan antarnegara kian rapat dan saling berhubungan dalam modus kausalitas, petaka pada negara yang satu mustahil tak membuat persoalan bagi yang lain. Begitu pula manakala nafsu besar Rusia melahap hak milik liyan tanpa hak, membuat dunia kian dekat ke tubir kelaparan, siap untuk terjerumus.

Ukraina adalah wilayah yang sejak lama menjadi lumbung pangan Eropa, hingga berjuluk “the breadbasket of Europe”. Jika negara itu pernah mengalami horror kelaparan yang dikenang sebagai Holodomor di tahun 1930-an, itu bukan karena warga negaranya tiba-tiba mayoritas jadi pemalas. Itu karena Tuan Stalin yang loba nan ganas, pemimpin Rusia saat itu, merampas hak milik mereka karena tamak. Sama dengan perilaku Putin saat ini.

Bohong Baca Juga: Bohong

New Geopolitics Research Network (NGRN), lembaga public yang konsen dengan isu geopolitik internasional, menulis data lama bahwa Ukraina adalah salah satu pemasok terbesar bahan pangan. Tidak hanya minyak bunga matahari yang bisa dipandang orang sebagai bahan komplementer, Ukraina pun jawara penghasil gandum, jagung, hingga jelai. Yang lebih menarik, pasar Ukraina tak hanya rakyat kaya di benua Eropa, melainkan pula negara-negara berpenghasilan rendah di seluruh dunia, serta pemasok beragam organisasi internasional yang peduli pada pemenuhan pangan rakyat dunia.

“Panen gandum Ukraina sempat memecahkan rekor pada 2021, mengumpulkan 107 juta metrik ton (mmt),”tulis NGRN. NGRN mencatat, sektor pertanian dan pangan mewakili hampir 10 persen GNP Ukraina. “Tahun lalu, Ukraina mengekspor produk makanan dengan total hampir 28 miliar dollar AS ke seluruh dunia, termasuk tujuh miliar euro (7,4 miliar dolar) sendiri ke negara-negara Uni Eropa.”

YennyBaca Juga: Yenny Wahid vs Muhaimin Iskandar; Terlukalah Sampai Kau Mampus!

Jangan salah, di antara negara-negara yang tergantung kepada Ukraina tersebut, posisi Indonesia tidaklah menyempil laiknya kutil. Data International Trade Center (ITC), lembaga multilateral yang memiliki mandat bersama World Trade Organization dan PBB melalui United Nations Conference on Trade and Development, menyatakan posisi ketergantungan Indonesia terhadap bahan pangan Ukraina itu terang benderang.

Hampir sepertiga kebutuhan gandum Indonesia (27 persen) dipasok Ukraina. Jika Anda skeptis mengingat tak banyak orang Indonesia bergantung kepada roti, lihatlah kiri-kanan Anda. Lihatlah, betapa anak, teman, saudara, atau bahkan Anda sendiri cukup tergantung kepada pasokan mie instan, seberapa pun tinggi penghasilan hari ini. Itu bukanlah gandum hasil tanam petani Karawang, tentu. Bila urusan Indonesia hanya sebatas mie instan, tidak demikian dengan negara-negara lain yang lebih tergantung kepada gandum. Tingkat ketergantungan akan impor dari Ukraina itu diderita Lebanon (80 persen impor), Libya (44 persen), Tunisia (42 persen), Pakistan (46 persen), Yaman, Mesir, Turki, Maroko, Bangladesh, hingga Israel, yang masing-masing tak kurang dari 20-an persen.

Baca Juga: Film Pesantren; Open Mind For a Different Views.

Halaman:

Editor: Budi Nugraha

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Annie Ernaux Raih Nobel Sastra 2022

Kamis, 6 Oktober 2022 | 22:28 WIB

Pameran Buku Frankfurt ke-74 Siap Digelar

Kamis, 6 Oktober 2022 | 20:46 WIB

Ukraina Didorong Ciptakan Perdamaian dengan Rusia

Rabu, 5 Oktober 2022 | 22:37 WIB
X