Janji Palsu Erdogan Menjelang Dirgahayu Ukraina?

- Minggu, 21 Agustus 2022 | 21:20 WIB
Algooth Putranto (Budi Nugraha)
Algooth Putranto (Budi Nugraha)

Algooth Putranto-Pengajar Ilmu Komunikasi Pasca Sarjana Usahid Jakarta

Menjelang peringatan dirgahayu#Ukraina ke-31 pada 24 Agustus, Presiden#Turki, Recep Tayyip Erdogan menjanjikan bahwa Ankara siap membantu upaya mengakhiri perang#Rusia-Ukraina melalui diplomasi, dan mengundang pemimpin kedua negara tersebut untuk bertemu di#Turki.

Saya mencatat ini bukan yang pertama, upaya Erdogan sudah dilakukan secara intens sejak Maret 2022, atau hanya beberapa minggu setelah Putin memerintahkan invasi berkedok operasi militer khusus yang motifnya sepertinya berdasarkan wangsit alias mengada-ada.

Pada akhir Maret, Turki menjadi tuan rumah pembicaraan tingkat tinggi#Rusia-Ukraina yang pada akhirnya gagal menghasilkan terobosan apa pun karena pada dasarnya#Rusia enggan meninggalkan wilayah yang telah mereka caplok sejak 2014.

Meski gagal menjadi mediator, Turki kemudian mengambil sikap netral secara eksplisit. Ankara telah mempertahankan hubungan dengan kedua belah pihak, tidak bergabung dengan sanksi Barat terhadap Moskow dan berusaha mengambil peran sebagai mediator dalam konflik tersebut.

Hingga pada Mei lalu, Presiden#Turki kembali membuat tawaran sebagai juru damai kepada Presiden#Rusia Vladimir Putin selama panggilan telepon. Namun ujung-ujungnya, Rusia tetap melakukan penjajahan di#Ukraina sementara#Turki mendapat janji palsu Putin.

Dikutip dari TASS, saat itu Putin menjanjikan bahwa#Rusia siap untuk mengekspor sejumlah besar pupuk dan makanan jika sanksi Barat terhadap Moskow dicabut. Putin juga mengatakan bahwa#Rusia akan bersedia memfasilitasi transit kargo laut tanpa batas, termasuk biji-bijian dari pelabuhan#Ukraina.

Jelas semua itu adalah janji palsu Moskow karena pada kenyataannya ekspor biji-bijan baru terjadi setelah pasukan#Ukraina berhasil memukul mundur pasukan#Rusia hingga terbirit-birit dari Pulau Ular (Zmiinyi)

Terpukul mundunya#Rusia dari Pulau Ular yang menjadi titik strategis blokade Laut Hitam menjadi peluang dibukanya kembali Pelabuhan di Odesa dan jalur pelayaran pengangkut komoditas pangan#Ukraina.

Halaman:

Editor: Budi Nugraha

Sumber: Opini Pribadi

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Hubungan Indonesia - Kamboja Perlu Ditumbuhkan

Jumat, 25 November 2022 | 19:49 WIB

Krisis di Myanmar Berpotensi Ganggu Stabilitas Kawasan

Kamis, 24 November 2022 | 16:11 WIB
X