Indonesia Kekurangan Penulis

- Jumat, 24 September 2021 | 17:39 WIB
Webinar Duta Baca Indonesia, “Gerakan Indonesia Menulis” : Kreatif Di Era Pandemi, yang digelar secara daring, Jum’at, 24 September 2021. (Perpusnas)
Webinar Duta Baca Indonesia, “Gerakan Indonesia Menulis” : Kreatif Di Era Pandemi, yang digelar secara daring, Jum’at, 24 September 2021. (Perpusnas)

JAKARTA, Jakarta.Suaramerdeka.com,- Rasio buku dengan penduduk di Indonesia menurut kajian yang dilakukan Perpustakaan Nasional adalah 1 : 90. Artinya, satu buku ditunggui oleh 90 orang.

UNESCO sendiri telah menetapkan standar ideal satu orang membaca tiga buku. Disparitas tersebut bisa terus menganga jika yang persoalan yang dipikirkan sebatas budaya baca.

Para pegiat literasi, termasuk penulis dan duta baca daerah diminta untuk berani berkarya lewat tulisan sehingga ketimpangan rasio buku perlahan teratasi.

Banyak pihak yang terlalu asyik dengan budaya membaca. Terus berkampanye di fase tersebut. Sejatinya peradaban harus bergerak maju. Ketika sudah terbiasa dengan membaca, maka mulailah belajar menulis.

“Teman-teman pegiat literasi, penulis lokal dan duta baca daerah sebenarnya adalah motor penggerak literasi menulis mengingat tidak banyak penulis best seller di Indonesia. Jadi, perlu ada regenerasi,” pesan Duta Baca Indonesia Gol A Gong pada Webinar Duta Baca Indonesia, “Gerakan Indonesia Menulis” : Kreatif Di Era Pandemi, yang digelar secara daring, Jum’at, 24 September 2021.

Gol A Gong juga menyoroti minimnya action yang dilakukan oleh para duta baca daerah yang sedikit sekali menghasilkan karya tulisnya karena tidak banyak yang punya keahlian menulis. Jadi, jangan anggap enteng dengan budaya menulis.

Senada diungkapkan penulis dan pendiri Benny Institute, Benny Arnas. Ketika para duta baca daerah berkampanye, selain harus memiliki pengetahuan dan motivasi dari banyak buku, paling tidak dibarengi dengan kemampuan menulis.

“Gerakan menulis adalah gerakan lompatan,” tambah Benny. Dia justru melihat kondisi pandemi Covid-19 adalah kondisi mewah yang diidamkan bagi penikmat buku dan pegiat tulisan.

Pandemi adalah waktu yang tepat untuk merebahkan diri. Aktivitas ini yang banyak diinginkan para pembaca/penulis.

Halaman:

Editor: Budi Nugraha

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Kebijakan Satu Peta Percepat Pemulihan Ekonomi

Rabu, 5 Oktober 2022 | 21:36 WIB

KIB Bisa Majukan Capres dari Hasil Konvensi

Rabu, 5 Oktober 2022 | 19:53 WIB

SSI: Prabowo Tinggal Tunggu Lawan di Pilpres 2024

Rabu, 5 Oktober 2022 | 14:08 WIB
X