Modernisasi Irigasi, dari Infrastruktur Hingga Pemberdayaan Petani

- Senin, 27 September 2021 | 22:02 WIB
Proyek Modernisasi Jaringan Irigasi Rentang atau yang sering disebut Rentang Irrigation Modernization Project (RIMP) di Kabupaten Majalengka, Jawa Barat, Senin, 27 September 2021. (Kartika SM.)
Proyek Modernisasi Jaringan Irigasi Rentang atau yang sering disebut Rentang Irrigation Modernization Project (RIMP) di Kabupaten Majalengka, Jawa Barat, Senin, 27 September 2021. (Kartika SM.)

JAKARTA, suaramerdeka-jakarta.com, Proyek Modernisasi Jaringan Irigasi Rentang atau yang sering disebut Rentang Irrigation Modernization Project (RIMP) tak hanya meliputi proyek insfrastruktur namun termasuk juga pemberdayaan petani. Proyek di bawah Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) ini ditargetkan rampung pada tahun 2025.

Kepala Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Cimanuk Cisanggarung Ismail Widadi menyatakan modernisasi irigasi ini mencakup 5 pilar. Pertama, ketahanan air dengan membendung sungai dan mengatur debit air.

Lalu kedua, tambahnya, membangun insfrastruktur jaringan irigrasi dari tanah menjadi beton. "Ini akan mengurangi endapan, kebocoran. Tanpa concrete bocor bisa sampai 60%, kita kejar maksimal tingkat kebocoran 30%," jelasnya.

Kemudian, ketiga manajemen pintu-pintu bendungan dengan teknologi terkini. Terakhir, membentuk unit pengelola bendungan dan membina petani agar bisa beradaptasi dengan saluran baru.

Proyek yang dimulai sejak Juli 2020 ini akan memperbaiki 9 ruas saluran irigasi. Renovasi tersebut diantaranya memperbaiki bendung Rentang yang berusia hampir 40 tahun. "Pintunya diganti, tanggulnya diperbaiki," katanya saat ditemui wartawan di Kabupaten Majalengka, Jawa Barat, Senin, 27 September 2021.

Selain itu, renovasi lain juga dilakukan di saluran induk Cipelang sepanjang 73,5 kilometer dan saluran sekunder 133,7 kilometer. "Kita juga memperbaiki bangunan pelengkap sebanyak 2.000-an ini pekerjaan besar sekali karena itu engga bisa selesai satu tahun anggaran," tambahnya.

Bahkan, kata dia, untuk membersihkan saluran irigasi panjangnya mencapai 750 kilometer. Proyek yang memakan anggaran besar ini juga mempunyai efek berkelanjutan. Tercatat, ada 10 kontraktor yang terlibat, enam perusahaan konsultan dan 52 kontraktor pendukung.

"Proyek ini melibatkan banyak perusahaan, tenaga kerja 2.648 yang tercatat," sebutnya.

Bahkan, pada tahun lalu proyek ini melibatkan hingga 8.000 tenaga kerja dari warga sekitar. Diharapkan, jika sudah selesai proyek ini akan mengairi lahan pertanian hingga 87.840 hektar dan membuat indeks pertanaman meningkat.

Halaman:

Editor: Arif Muhammad Iqbal

Tags

Artikel Terkait

Terkini

OJK: Pinjol Miliki Tujuan yang Sangat Baik  

Selasa, 19 Oktober 2021 | 18:06 WIB

Pemberantasan Pinjol Butuhkan Sinergi  

Selasa, 19 Oktober 2021 | 17:57 WIB

95 Persen Pinjol Beroperasi Ilegal

Selasa, 19 Oktober 2021 | 17:47 WIB

OJK Akui Ada Oknum Salahgunakan Pinjol

Selasa, 19 Oktober 2021 | 17:40 WIB

22 tahun merdeka, Timor Leste setia miskin

Selasa, 19 Oktober 2021 | 17:03 WIB

Ingin sinergikan kompetensi SDM Indonesia

Selasa, 19 Oktober 2021 | 17:01 WIB

Publik nilai korupsi meningkat di periode kedua Jokowi

Selasa, 19 Oktober 2021 | 16:29 WIB

Mau Bantuan Usaha Total 100 Juta? Ini caranya

Selasa, 19 Oktober 2021 | 12:43 WIB
X