SWA 100 & Indonesia Trillionaire Club: Strategi Perusahaan-perusahaan Publik Tingkatkan Shareholders Value

- Kamis, 14 Oktober 2021 | 17:14 WIB

 

 


JAKARTA, suaramerdeka-jakarta-com.- ---Perusahaan-perusahaan publik yang sahamnya tercatat di Bursa Efek Indonesia (BEI) memiliki tanggung jawab besar untuk menjaga agar nilai perusahaan tidak menurun. Tujuannya, agar investor atau para pemegang saham (shareholders) puas dengan mendapatkan capital gain, return dan dividen yang signifikan jumlahnya.

Namun, badai pandemi Covid-19 yang sudah 18 bulan memporak-porandakan kondisi kesehatan dan perekonomian bangsa Indonesia, juga memukul kinerja bisnis  emiten-emiten yang sahamnya tercatat di BEI. Mayoritas emiten terengah-engah menghadapi pandemi ini, meski ada pula yang berhasil menorehkan kinerja jempolan.

“Berdasarkan peringkat SWA100 tahun 2021, ternyata hanya 13 dari 100 perusahaan tersebut yang menghasilkan Wealth Added Index  (WAI) positif. Artinya, hanya 13% perusahaan dalam SWA100 2021 yang mampu menciptakan kekayaan bagi para pemegang sahamnya,” ungkap Kemal Effendi Gani, Group Chief Editor SWA dalam keterangan tertulis (14/10/2021). 

Kendati demikian, masih ada sejumlah  emiten yang menghasilkan shareholders value tinggi kepada para investor. Bahkan, di kelompok perusahaan lapis kedua BEI, capital gain sahamnya bisa mencapai ratusan hingga ribuan persen dalam setahun.

Peluang untuk menambah kekayaan dengan berinvestasi di luar 100 perusahaan berkapitalisasi besar sangatlah terbuka.  Tahun 2020 saja, banyak saham yang kenaikan harganya lebih dari 100%.  Sebut saja saham Bank BRI Syariah (yang sekarang dimerger dengan Bank Syariah Mandiri dan Bank BNI Syariah menjadi Bank Syariah Indonesia), harga sahamnya naik 581,82% (dari Rp 330 menjadi Rp 2.250), saham PT Bank Rakyat Indonesia Agroniaga melonjak 422,73%, saham PT Pyridam Farma naik 392,42%, dan saham PT Kimia Farma Tbk meningkat 240%.

Bahkan, perusahaan yang melakukan IPO (initial public offering) di Semester I/2021, ada yang harga sahamnya naik hingga ribuan persen hanya dalam waktu kurang dari 6 bulan. Sebut saja, PT DCI Indonesia yang melantai di BEI pada 6 Januari 2021, harga sahamnya melejit 13.947%, dari harga perdana Rp 420 naik menjadi Rp 59.000 pada akhir Juni 2021. Adapun PT Bank Aladyn Syariah (IPO pada 1 Februari 2021), harga sahamnya naik 3.016%, dan PT Damai Sejahtera Abadi harga sahamnya meningkat 1.078%.

Adapun 10 saham dengan kapitalisasi terbesar di BEI berdasarkan SWA100 2021 adalah saham PT Bank Central Asia Tbk, PT Bank Rakyat Indonesia Tbk. (Persero), PT  Telkom Indonesia (Persero) Tbk., PT Bank Mandiri (Persero) Tbk., PT Unilever Indonesia Tbk., PT Astra International Tbk.,    PT H.M. Sampoerna Tbk., PT Chandra Asri Petrochemical Tbk., PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk. dan PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk.

Sementara itu, dalam kesempatan terpisah, Martin Schwarz, Direktur Eksekutif Stern Value Management, menerangkan, saham perbankan menjadi penangkal penurunan nilai kekayaan yang lebih dalam. “Untungnya, sektor perbankan tidak terdampak. Sektor ini bahkan dipandang sebagai safe harbor dari dampak wabah virus Covid-19. Ini sekaligus menjadi peluang untuk berinvestasi di institusi keuangan. Bahkan ke depan, sektor ini akan membantu meretas jalan pertumbuhan,” kata Martin. 

Halaman:

Editor: Budi Nugraha

Sumber: Liputan lapangan

Terkini

Bank Muamalat dan BMM Gelar Muamalat Berbagi

Senin, 6 Februari 2023 | 15:17 WIB
X