22 tahun merdeka, Timor Leste setia miskin

- Selasa, 19 Oktober 2021 | 17:03 WIB
Sidang Istimewa MPR tahun 1999 selain mendengarkan pidato pertanggungjawaban BJ Habibie sebagai presiden RI selama 17 bulan, juga memutuskan melepaskan Timor Timur dari Indonesia (Budi Nugraha)
Sidang Istimewa MPR tahun 1999 selain mendengarkan pidato pertanggungjawaban BJ Habibie sebagai presiden RI selama 17 bulan, juga memutuskan melepaskan Timor Timur dari Indonesia (Budi Nugraha)

JAKARTA, suaramerdeka-jakarta.com-Pada 19 Oktober 1999, Sidang Umum MPR RI menyetujui hasil referendum Timor Timur (Timtim) yang artinya Timtim lepas dari Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dan menjadi negara Timor Leste.

Awal lepasnya Timtim dimulai pada Januari 1999 saat Habibie mengumumkan ‘pilihan kedua’ bagi Timtim untuk memilih antara otonomi daerah atau kemerdekaan. Habibie meminta Sekjen PBB saat itu, Kofi Anan, untuk menjembatani Indonesia dan Portugal soal Timtim.

Dari situ dicapai kesepakatan untuk menggunakan jajak pendapat dalam konsultansi dengan masyarakat Timtim. Referendum menetapkan dua opsi itu yaitu menerima otonomi khusus untuk Timtim dalam NKRI atau menolak otonomi khusus. Referendum diadakan di Timtim pada 30 Agustus 1999.

Baca Juga: Ingin sinergikan kompetensi SDM Indonesia

Dikutip dari Self Determination in East Timor yang ditulis Ian Martin, hasil referendum menunjukkan bahwa sebanyak 94.388 penduduk atau sebesar 21,5 persen penduduk memilih tawaran otonomi khusus.

Australia bertahun-tahun kerap menarasikan berjasa memerdekakan Timor Leste dari Indonesia, namun hal tersebut pelan namun pasti terungkap setelah Arsip Keamanan Nasional AS pada 2019 membuka dokumen intelijen Amerika Serikat terkait kerusuhan pasca referendum Timor Leste tahun 1999.

Dokumen tersebut mengklaim bahwa AS, bukan Australia, yang memaksa Indonesia untuk menerima pasukan penjaga perdamaian untuk Timor Leste (Interfet) setelah 78,5 persen rakyat di sana memilih opsi merdeka.

Baca Juga: Kembali Digelar Kongres Nasional Indonesia Kompeten II Tahun 2021 Akselerasi Sumber Daya Manusia Indonesia Kom

Dokumen tersebut juga mengindikasikan bahwa Australia sama sekali tidak mendukung atau merencanakan misi penjaga perdamaian sampai menit-menit terakhir. Yaitu setelah AS berhasil memaksa Indonesia.

Halaman:

Editor: Budi Nugraha

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Memanfaatkan Buah Kiwi Untuk Perawatan Kecantikan

Sabtu, 4 Desember 2021 | 10:11 WIB

Wajah dan Arah Bangsa Hanya Ditentukan oleh Parpol

Jumat, 3 Desember 2021 | 22:09 WIB

Sido Muncul Raih Penghargaan Dari Kemenperin

Jumat, 3 Desember 2021 | 20:10 WIB

Musica Studios dkk Seperti Perompak Menjerit Dirampok

Jumat, 3 Desember 2021 | 18:50 WIB
X