Pengamat Telematika Abimanyu Wahjoewidajat: Tentang diretasnya situs BSSN (Badan Siber dan Sandi Negara)

- Sabtu, 30 Oktober 2021 | 11:16 WIB

 

JAKARTA,suaramerdeka-jakarta.com-

Pakar Telematika Abimanyu Wahjoewidajat berpendapat mengenai kejadian  dimana situs BSSN mengalami deface (perubahan tampilan diluar kendali pengelola), ada beberapa hal yang justru menurut dirinyanm janggal dan melihat kejadian ini menjadi aneh.
Kejadian tersebut (sesuai pemberitaan) baru sekedar pengakuan yang ditulis pada layar. Padahal bisa saja pelakunya bukan dari Brazil melainkan dari pihak manapun, termasuk dari orang dalam dan itu semua kelak harus dapat dibuktikan dan dengan melihat firewall, log dan lain-lain dan dikonfirmasikan oleh pihak BSSN sendiri.
Menurut Abimanyu Wahjoewidajat sampai sekarang situs tersebut belum sempat recover ini menunjukkan kan bahwa IT BSSN dan konsultannya adalah praktisi telematika yang sangat kurang mumpuni, mengapa sebegitu kewalahan menghadapi peretasan sekelas di Deface?

 

Baca Juga: Presiden, Pers Harus Adaptif di Era Disrupsi Teknologi

 


" Pengelola situs yang baik mempunyai backup aplikasi maupun database yang dilakukan secara terpola dan berkala. Dengan demikian saat mengalami gangguan sekedar seperti ini cukup tinggal melakukan restore dan recovery maka keadaan bisa menjadi normal kembali.
Cara tersebut bisa mengatasi cybercrime berupa penyusupan dan Cracking,"kata dia.
Abimanyu Wahjoewidajat mengungkapkan semua jalur koordinasi dan komunikasi kerap bisa menjadi celah untuk penyusupan dan peretasan. Hal itu harusnya perlu disadari para pengelola perangkat telematika. Demi mengantisipasi kemungkinan terjadinya hal tersebut baik oleh orang dalam sekalipun: apabila ada karyawan yang yang sudah keluar atau penggantian pengelola dan lain-lain maka semua hal yang sifatnya pengendalian termasuk sandi harus diubah.
"
Cara tersebut yang saya ajarkan kepada ada klien maupun siswa² saya (yang rata-rata para pengelola keamanan yang ada di Indonesia) dan selalu efektif. Apa yang terjadi di BSSN mungkin saja dilakukan oleh orang dalam atau mantan orang dalam dan semua itu bisa terbukti dengan langkah *3T* yang sering saya utarakan dalam berbagi ke masyarakat yakni: *Telisik, Teliti dan Telusur,"papar dia.
Abimanyu Wahjoewidajat mengungkapkan, mari kita lihat tindakan akhir BSSN dalam mengatasi hal ini, apabila ujung-ujungnya adalah proyek perbaikan untuk peningkatan sistem (yang biasanya nilainya beratus juta dan bermilyar rupiah) maka jelas peretasan yang sekarang terjadi adalah sesuatu yang mungkin justru terjadi ( oleh oknum-oknum tertentu yang mencari keuntungan dari proyek perbaikan / peningkatan tersebut).
Abimanyu juga menambahkan yang melakukan penelitian mendalam terhadap semua kejadian ini di mana justru karena sistem telah kembali normal maka penelitian bisa dilakukan secara *5T: Tenang, Terencana, Terpola, Tertata, Terkoneksi* dan mendetil, dimana tujuannya untuk benar-benar mengetahui mengenai hal apa yang terjadi. dengan demikian masalah yang ada harus dapat diantisipasi dan dihindari pada penerapan sistem yang baru.
Selain itu 5T juga bisa untuk mengambil kesimpulan cyber Crime yang terjadi sekedar deface saja? Apakah ada ada data-data yang mungkin tercuri (dan itu jauh lebih mengerikan daripada deface mengingat Ini masalah Sandi Negara)
Bila hal itu tidak dilakukan maka semua proyek perbaikan dan peningkatan selalu hanya sekedar tambal sulam dan kelak akan terjadi lagi dan lagi.

Editor: Budi Nugraha

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Pencapresan KIB Pengaruhi Peta Politik Nasional

Rabu, 7 Desember 2022 | 20:33 WIB

Bank Hana Bantu Korban Gempa Cianjur

Rabu, 7 Desember 2022 | 19:00 WIB
X