Grabiella Witdarmono Ajak Semua Pihak Sikapi Online Abuse di Dunia Olahraga

- Sabtu, 15 Januari 2022 | 08:03 WIB

 

JAKARTA,suaramerdeka-jakarta.com-

Atlet merupakan salah satu profesi yang seringkali menjadi pekerjaan impian dan cita-cita bagi banyak orang. Bagaimana tidak? Olahragawan seperti Cristiano Ronaldo, LeBron James, hingga Conor McGregor memperoleh pendapatan yang selangit, popularitas yang meningkat, serta kemungkinan mewakili nama negara ke pentas internasional.
"
Sudah seharusnya kita mengambil sikap untuk menegaskan bahwa setiap perilaku perundungan dalam bentuk apapun tidak akan pernah bisa ditoleransi, baik offline maupun online. Kritik dan tekanan memang wajar untuk disampaikan dan telah menjadi dinamika yang menarik dalam dunia olahraga, tapi tentu saja hal tersebut tidak boleh mengabaikan nilai-nilai yang dapat mencederai moralitas dan kemanusiaan,
Demikian dikatakan Vice President Partnership & Activation PERSIB, Gabriella Witdarmono di Jakarta,hari ini.
"
Namun, banyak yang tidak menyadari bahwa atlet merupakan publik figur yang juga dilihat perilakunya di luar lapangan, terlepas dari prestasi dan penampilan mereka di arena. Terlebih lagi, pada era digital saat ini sorotan terkait performa mereka di lapangan akan menjadi bahasan di ranah digital lewat platform media sosial. Keberadaan media sosial ini mengikis jarak antara aku (seorang penggemar) dan kamu (atlet - idola) sehingga mereka dengan bebas berinteraksi tanpa batasan apapun," kata dia.

Baca Juga: Para Lelaki Pun Dukung RUU TPKS: Harus Segera Disahkan Sebab Satu Korban Saja Terlalu Banyak!


Di satu sisi, pola interaksi antara fans dan publik figur berkembang menjadi semakin intim karena media sosial. Sementara di sisi lain, ada dampak negatif yang juga muncul akibat hilangnya rambu interaksi seperti norma kesopanan dan etika. Saat atlet bermain bagus dan mendapat kemenangan misalnya, banyak fans yang memberikan pujian langsung lewat laman media sosial pribadinya. Formula itu berlaku sebaliknya ketika si atlet mengalami penurunan performa, banyak fans yang lebih sering mengangkat hasil akhir dibanding proses di belakangnya yang juga bisa berperan. Hal ini berujung pada membanjirnya kritik-kritik yang tidak disampaikan secara elok dan melahirkan fenomena bernama online abuse.

Menurut asosiasi pemain sepakbola internasional FIFPRO, online abuse semakin marak terjadi setelah pandemi. Sebelum Covid-19, online abuse terhadap pemain di lapangan dilakukan secara langsung di stadion. Namun, ketika dunia menerapkan lockdown dan stadion-stadion tertutup, gelombang intimidasi melalui teknologi digital, yang berbentuk pengiriman pesan bernada menyakiti atau ancaman muncul secara masif di platform-platform media sosial.
Para pelaku online abuse ini mayoritas saling membenarkan tindakan mereka sebagai reaksi yang wajar ketika tim atau atlet yang didukung tidak bermain sesuai harapan. Selain itu, para pelaku online abuse sering berlindung di balik akun anonim dalam melakukan hal tidak terpuji ini sehingga membuat mereka merasa tidak akan adanya konsekuensi riil yang dihadapi di dunia nyata.

Baca Juga: Menyikapi Online Abuse di Dunia Olahraga Oleh Vice President Partnership & Activation PERSIB, Gabriella Witdar


Di ranah olahraga, online abuse cukup sering terjadi, khususnya sepakbola. Sepanjang tahun 2021 ini banyak olahragawan dan pesepakbola yang menjadi sasaran amukan fans akibat permainan yang tidak sesuai dengan harapan di lapangan. Tentunya kita masih ingat bagaimana trio pemain sepakbola Inggris yang mendapat cacian dan cemooh fans The Tree Lions ketika tim kesayangan mereka gagal mewujudkan visi “Football is Coming Home” dalam turnamen sepakbola paling bergengsi di Eropa itu.
Di dalam negeri sendiri baru-baru ini, beberapa pemain bulutangkis nasional Indonesia mendapatkan kritikan bernada tidak pantas di media sosial karena penampilan beberapa atlet dirasa tidak sesuai harapan. Banyak dari kritikan-kritikan yang beredar melenceng jauh dari substansi hingga menyerang bentuk tubuh beberapa atlet. Bahkan pada beberapa kasus, tidak jarang serangan online abuse juga ditujukan kepada keluarga dan orang-orang terdekat atlet tersebut.

Baca Juga: Calon Tunggal, Krisna Bayu Bakal Jadi Ketua Umum PP Persambi Lagi
Permasalahannya, online abuse tentunya menghasilkan dampak yang negatif terhadap target sasarannya. Alih-alih termotivasi dan berusaha menjawab kekesalan pendukung mereka, atlet-atlet ini menjadi tertekan dan rentan stress yang berujung pada penampilan yang tidak maksimal di lapangan. Pada beberapa kasus, bahkan anggota-anggota keluarga para atlet juga turut menjadi sasaran online abuse dari pengguna internet. Mantan pemain Manchester United, Rio Ferdinand pernah berbicara tentang hal ini, bahwa ia telah melihat anggota keluarga atlet yang merespon online abuse jauh lebih buruk daripada atlet yang menerimanya.
Maraknya kejadian online abuse yang terjadi mendorong para atlet dan orang terdekatnya untuk mengunci akun media sosial mereka, atau lebih ekstrim lagi, menghapusnya karena tidak tahan akan gempuran ujaran kebencian yang dilemparkan pada mereka. Padahal, media sosial seharusnya menjadi tempat atlet bisa berinteraksi langsung dengan fans dan penggemarnya.
"
Online abuse tidak bisa lagi dianggap sebagai angin lalu ataupun hal yang sepele karena dampaknya yang bisa mengganggu mental dari para atlet. Maka dari itu, perlu adanya mitigasi yang diterapkan oleh federasi atau klub untuk melindungi atlet-atletnya. Sebagai contoh, dari perspektif praktisi industri olahraga, klub selalu mencoba melindungi para atlet dengan menekankan spirit kebersamaan baik dalam situasi menang atau kalah," paparnya.

Halaman:

Editor: Budi Nugraha

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Bandara Halim Ditutup Sementara Untuk Renovasi

Selasa, 25 Januari 2022 | 16:31 WIB

Pemerintah Akan Bentuk Tim Juru Bicara

Selasa, 25 Januari 2022 | 14:08 WIB

TheFoodHall Terus Berbagi Kepada Anak Panti

Selasa, 25 Januari 2022 | 09:26 WIB
X