Akmal Nasery Basral Datang, Buya Hamka Menjelang

- Jumat, 1 April 2022 | 12:06 WIB
Akmal Nasery Basral (Arsip Pribadi)
Akmal Nasery Basral (Arsip Pribadi)

JAKARTA, Jakarta.Suaramerdeka.com,-   Sastrawan Akmal Nasery Basral yang biasa dipanggil Uda Akmal, hari ini meluncurkan buku kisah hidup Prof. Dr. H. Abdul Malik Karim Amrullah (1908-1961) yang memiliki panggilan akrab Buya Hamka.

Kisah dalam kemasan novel sejarah ini berjudul Serangkai Makna di Mihrab Ulama diterbitkan oleh Republika Penerbit. Acara soft launching ditandai dengan Bincang Buku ini di kanal IG @bukurepublika secara langsung pada Jum’at, 1 April 2022, pukul 15-16 WIB sekaligus sebagai keriaan literasi memasuki bulan suci Ramadhan 1443 H.

Serangkai Makna di Mihrab Ulama adalah dwilogi kisah Buya Hamka setelah buku pertama Setangkai Pena di Taman Pujangga yang terbit persis sebelum pandemi (Maret 2020).

Baca Juga: Perang dan Damai

Jika Setangkai Pena di Taman Pujangga mengisahkan kehidupan Buya Hamka sejak masa kanak-kanak sampai usia 30 tahun (1938) yang melontarkan namanya sebagai pujangga setelah menghasilkan dua karya besar Di Bawah Lindungan Ka’bah dan Tenggelamnya Kapal Van der Wijck, maka pada sekuel Serangkai Makna di Mihrab Ulama mengisahkan periode hidup Buya Hamka umur  31 tahun sampai wafat di usia 73 tahun (1981).

Ini beririsan sejarah Indonesia menjelang masuknya Tentara Jepang ke Tanah Air, Proklamasi Kemerdekaan dan masa revolusi fisik (1945-1949), gejolak politik domestik tahun 1950-an ketika Hamka menjadi salah seorang anggota Konstituante, era 60-an yang panas membara dengan pemberontakan PKI (Hamka dipenjara selama hampir 2,5 tahun tanpa pengadilan), runtuhnya Orde Lama, munculnya Orde Baru dengan Buya Hamka sebagai salah seorang ulama terpenting, pembentukan Majelis Ulama Indonesia (1975) yang menempatkannya sebagai ketua umum pertama, sekaligus sampai akhir hayatnya di tahun 1981.

Baca Juga: Putin, Biden dan Adzan

 Serangkai Makna di Mihrab Ulama adalah karya ke-24 Akmal Nasery Basral, sastrawan berdarah Minangkabau yang tahun lalu mendapat Penghargaan National Writers Award 2021 dari Perkumpulan Penulis Nasional Satupena, bersama sejumlah penulis lainnya (fiksi dan nonfiksi).

“Seluruh royalti dari dwilogi Buya Hamka ini, baik Setangkai Pena di Taman Pujangga maupun Serangkai Makna di Mihrab Ulama akan saya donasikan untuk program pengembangan masyarakat di Kep. Mentawai melalui program yang dijalankan ACT (Aksi Cepat Tanggap) Pusat,” ujarnya.

Halaman:

Editor: Budi Nugraha

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Semeru Awas! Hampir 2 Ribu Jiwa Mengungsi

Minggu, 4 Desember 2022 | 18:18 WIB

Prita Kemal Gani Terus Menginspirasi.

Minggu, 4 Desember 2022 | 11:46 WIB

Peneliti Asing Erik Meijaard Dilaporkan Melanggar UU

Sabtu, 3 Desember 2022 | 23:57 WIB

Gempa 6,4 Garut, BNPB Sebut Ada Warga yang Terluka

Sabtu, 3 Desember 2022 | 20:59 WIB
X