Kenapa Alumni Enggan Berkunjung ke Almamaternya, Ini Penjelasan Dekan Fisip UNS

- Jumat, 20 Mei 2022 | 09:38 WIB
 
SOLO, jakarta.suaramerdeka.com  - Kebanyakan para alumni perguruan tinggi cenderung enggan datang kembali ke kampusnya. Padahal almamater bukan hanya terbuka tetapi juga bisa menjadi tempat tetirah, sarana "cas baterai" menyegarkan isi otak, bahkan bisa saling mengisi. 
 
Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Politik (Fisip) Univeritas Sebelas Maret (UNS), Prof Dr Ismi Dwi Astuti Nurhaeni M.Si, secara berseloroh menduga para alumni takut dimintai sumbangan. Terlebih mereka yang ada di puncak karier dan tak banyak memiliki waktu. 
 
Sebaliknya yang merasa menjadi orang biasa juga tak sedikit yang terjangkiti sindrome enggan ke kampusnya bahkan bertemu dengan sesama alumni. "Ada banyak alasan mereka enggan ke kampusnya kembali," ucap Ismi, saat menerima perwakilan Alumni Angkatan tahun 1980,  Any Dyah Hertin dan Ketua IKA Fisip Pandapotan Rambe, Jumat. 
 
Sebelumnya para lulusan 1980 Fisip, yang kebanyakan sudah purna tugas itu, menyerahkan bantuan sebesar Rp100 juta. Diharapkan bantuan yang merupalam donasi dari Sri Weningsih itu bisa digunakan untuk menambah fasilitas kampus. 
 
 
Ismi yang didampingi tiga Wakil Dekan, Dra Prahastiwi Utari MSi, Ph.D, Dr Kristina Setyowati, MSi, dan Dr Ahmad Zuber, S. Sos, DEA, mengatakan datang kembali ke kampus mestinya seperti pulang ke rumah orang tua. Bisa berkeluh kesah, bisa menawarkan apapun untuk kebaikan bersama. 
 
"Andai ada rejeki, kepingin menyumbang, ya kami fasilitasi. Berapapun kami terima. Mau Rp 5 ribu atau berapa. Kalau ada kesadaran seluruh alumni maka akumulasi sumbangan ini akan menjadikan kampus semakin maju," kata pakar administrasi negara yang banyak menuliskan karya ilmiah tentang gender. 
 
Sumbangan uang, bagi Ismi, juga harus diterimanya dengan hati-hati dan tidak menimbulkan masalah. Sebagi pejabat uang itu harus jelas dari siapa untuk apa dan harus bisa dipertanggunghawabkan secara transparan. Maka ia perlu berkoordinasi dengan bagian keuangan dan pengadaan fakultas. Apakah bisa menerima uang atau hanya barang dan jaya saja. 
 
 
Di bawah kepemimpinan Ismi, yang menjabat dekan untuk kedua kalinya, kampus Fisip UNS telah disulap menjadi bangunan friendly. Ramah terhadap siapapun bukan sekedar lembaga pendidikan yang angker. Masuk kampus serasa memasuki mal atau cafe yang membuat orang betah. 
 
Ruangan kuliah, perkantoran, selasar, tempat berkumpul bercengkerama mahasiswa, taman, areal parkir, kantin,  public area, hingga kebersihan toilet diperhatikan dengan detail. "Pak Rektor paling senang kalau berkunjung ke sini," ujar alumnus S1 Administrasi Negara Fisip UNS angkatan 1980 ini. 
 
Ihwal yang hendak dibenahinya saat ini adalah merenovasi kantin kampus. Kantin akan dirombak dan menyatukan dengan taman di sebelahnya. Mahasiswa bukan hanya bisa di kantin tetapi bisa bersantai makan di taman sambil mengerjakan tugas kuliahnya. 

Editor: Budi Nugraha

Tags

Artikel Terkait

Terkini

PPP DKI Jakarta Apresiasi Penutupan Holywings

Rabu, 29 Juni 2022 | 20:01 WIB

Kapolri Gelar Festival Nusantara Gemilang

Rabu, 29 Juni 2022 | 09:23 WIB

Pilkades Serentak Harus Terapkan Prokes

Selasa, 28 Juni 2022 | 17:18 WIB
X