Wina Armada Sukardi; Karakter Sosiologis Penonton Film Indonesia Agraris Humoris dan Agraris Mistis.

- Sabtu, 21 Mei 2022 | 09:54 WIB
Wina Armada Sukardi (Arsip Pribadi)
Wina Armada Sukardi (Arsip Pribadi)

JAKARTA, Jakarta.Suaramerdeka.com,- Pemerhati film cum wartawan senior Wina Armada Sukardi mengatakan karakter sosiologis penonton film Indonesia sangat spesifik sekali. Atau terbelah dalam dua kutub yang saling berseberangan. Tapi pada saat bersamaan, atau pada momen tertentu bisa saling memengaruhi satu sama lain, seiring berjalannya waktu.

"Sebagai masyarakat agraris, secara sosiologis penonton film Indonesia
adalah agraris yang humoris dan agraris yang mistis. Karenanya, secara statistik film yang meledak di Indonesia adalah film komedi dan film mistis. Arti selanjutnya, penonton film Indonesia sebenarnya lebih dekat dengan film Indonesia," kata Wina Armada Sukardi saat membuka webinar berjudul  Perubahan Tren Film Indonesia Pasca Pandemi Melandai, yang merupakan bagian dari seri webinar yang digagas Festival Film Wartawan Indonesia (FFWI) XII.

Webinar Seri 1 Festival Film Wartawan Indonesia (FFWI) XII, Hadirkan Awi Suryadi, Sutradara KKN Desa Penari. (Tangkapan Layar)

Wina Armada Sukardi yang juga berposisi selaku Ketua FFWI, menambahkan, FFWI XII yang mendapatkan dukungan penuh dari Direktur Perfilman Musik dan Media (PMM) Kemendikbudristek RI, menjelaskan, FFWI XII yang dilaksanakan pada masa transisi pandemic menjadi endemic, atau menjadi menjadi penyakit biasa. Juga akan menelisik sejauh mana perubahan budaya menonton masyarakat Indonesia.

Baca Juga: Kuliah Umum Benny Benke di Fakultas Pendidikan Vokasi Universitas Indonesia Berlangsung Hangat

"Serial Layangan Putus di OTT ditonton 16 juta penonton, disusul film KKN Desa Penari sudah di angka 7,5 juta hingga Jumat (20/5/2022). Mungkinkah mampu menembus 10 juta seiring pemerintah sudah mengumumkan secara resmi pandemi mulai melandai, dan pembatasan mulai dikurangi," katanya.

Yang paling utama, Wina Armada Sukardi menekankan, pangsa pasar film Indonesia sangat luar biasa. Meski pada saat bersamaan menimbulkan hukum pasarnya sendiri.

"Semakin banyak sebuah film mendapatkan penonton, semakin elitis film tersebut, akibatnya film yang tidak banyak mendapatkan penonton akan semakin berkurang jumlah layarnya," pungkasnya.

 

Editor: Budi Nugraha

Tags

Artikel Terkait

Terkini

HT Pimpin Konsolidasi & Bimtek Partai Perindo

Jumat, 9 Desember 2022 | 10:46 WIB

Pengesahan RKUHP Meresahkan Kalangan Pers

Jumat, 9 Desember 2022 | 10:22 WIB

KUHP Tidak Berlaku untuk Kegiatan Kemerdekaan Pers

Jumat, 9 Desember 2022 | 09:37 WIB
X