Petani Sawit Didorong Gabung Koperasi untuk Optimalkan Keuntungan

- Kamis, 9 Juni 2022 | 06:43 WIB
suasana diskusi daring bertema Atur Ulang Tata Kelola Sawit yang digelar FMB9 (Forum Merdeka Barat9, Rabu (8/6/22). (FMB9)
suasana diskusi daring bertema Atur Ulang Tata Kelola Sawit yang digelar FMB9 (Forum Merdeka Barat9, Rabu (8/6/22). (FMB9)

JAKARTA- Para petani sawit di Indonesia didorong secara swadaya bergabung dalam koperasi.

Hal ini perlu dilakukan agar mereka bisa mendapatkan keuntungan dari penjualan hasil sumber daya alam (SDA) yang dimiliki.

Karena itu, menurut Asisten Deputi Pengembangan dan Pembaruan Perkoperasian, Kementerian Koperasi dan UKM (Kemenkop UKM) Bagus Rachman, melibatkan usaha rakyat secara lebih luas menjadi penting dipertimbangkan supaya pasar nasional tidak rentan akibat dominasi pelaku industri besar yang justru cenderung mengambil untung saat kenaikan harga produk sawit di tingkat internasional terjadi.

“Korporatisasi sawit adalah kebijakan untuk mewujudkan apa yang disebut korporasi petani sawit. Ini tujuannya untuk meningkatkan pendapatan para petani sawit," kata Bagus dalam dalam diskusi daring bertema Atur Ulang Tata Kelola Sawit yang digelar FMB9 (Forum Merdeka Barat9, Rabu (8/6/22).

Bagus menjelaskan, berdasarkan Data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2020 tercatat lebih dari 40 persen perkebunan kelapa sawit di Indonesia dikuasai oleh petani swadaya.

Namun sayang, hingga kini masih banyak petani yang belum tergabung dalam koperasi, sehingga mereka tidak mendapat keuntungan yang layak.

“Dari sisi tata kelola, kita bicara dari hulu dulu ya. Jadi kalau kita melihat data dari BPS tahun 2020, tercatat 14,59 juta hektar luas perkebunan sawit di Indonesia," papar Bagus.

Yang menarik, menurut Bagus, dari total tersebut, terdapat sekitar 41 persen atau 6,04 juta hektar di antaranya dikelola secara swadaya oleh masyarakat. Mereka dalah petani sawit yang memiliki lahan terpisah-pisah.

Maka dari itu, lanjutnya, kehadiran Kemenkop UKM dalam urusan tata kelola industri sawit ini, pertama dapat dipandang sebagai konsolidator para petani sawit.

Halaman:

Editor: Fauzan Jazadi

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Tragedi Kanjuruhan Jangan Sampai Terulang

Selasa, 4 Oktober 2022 | 13:59 WIB
X