Ihwal Invasi Rusia ke Ukraina, Indonesia Tidak Selayaknya Bersikap Pasif

- Senin, 20 Juni 2022 | 14:15 WIB
Peringatan 30 tahun hubungan Ukraina-Indonesia. (Istimewa)
Peringatan 30 tahun hubungan Ukraina-Indonesia. (Istimewa)

JAKARTA, Jakarta.Suaramerdeka.com,—Indonesia tidak bisa bersikap pasif dalam persoalan perang dan kehancuran kemanusiaan yang terjadi di Ukraina akibat invasi Rusia. Pilihan Indonesia hanya bersikap bebas dan aktif mewujudkan perdamaian dunia menuju masyarakat berkeadilan sosial, yang dalam hal ini urgen dicari solusinya dalam peperangan di Ukraina.

Setidaknya lima tokoh yang diwawancarai secara terpisah menegaskan hal tersebut. Mereka antara lain diplomat senior dan mantan wakil menlu, Dino Patti Djalal; Sekretaris Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Prof Abdul Mu’ti; anggota Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (NU), Syafiq Ali; pengamat pertahanan Connie Rahakundili Bakrie, serta wartawan senior dan mantan pimpinan redaksi majalah TEMPO, Bambang Harimurty.

Baca Juga: Tahanan Kota

Dino Patti Djalal menegaskan, dalam peperangan dan kehancuran yang terjadi akibat invasi Rusia ke Ukraina, Indonesia tidak punya pilihan kecuali mengupayakan segera berakhirnya perang.

Indonesia, menurut Dino, harus mendesak Rusia segera menarik pulang seluruh pasukannya kembali ke negaranya sehingga tercipta kondisi yang memungkinkan terjadinya perdamaian.

Semua itu tidak lain karena tuntutan Konstitusi Negara, yakni UUD 1945. Dalam Konstitusi, terutama pada Pembukaan, ditegaskan secara tersurat bahwa Indonesia mengakui kemerdekaan sebagai hak segala bangsa di dunia, dan penjajahan pun harus dihapuskan karena tidak sesuai dengan kemanusiaan dan keadilan.

Baca Juga: Petrus

“Apa yang dilakukan Rusia itu jelas menjajah bangsa lain yang telah merdeka dan berdaulat, sehingga sikap Indonesia pun tak bisa berkompromi selain secara bebas dan aktif mengupayakan agar perang ini segera berakhir, Rusia segera keluar sehingga perdamaian terwujud di Ukraina, dan dunia umumnya,”kata Dino yang merupakan pendiri Foreign Policy Community of Indonesia (FPCI), lembaga swadaya hubungan internasional terbesar di Asia Tenggara sebagaimana rilis yang diterima Jakarta.Suaramerdeka.com

Dubes Ukraina untuk Indonesia (tengah) dalam Peringatan 30 tahun hubungan Ukraina-Indonesia. (Istimewa)


Ketegasan sikap Indonesia akan kemerdekaan itu, kata Dino, juga ditekankan dengan pemeo yang sangat dipegang erat sejak lama, yakni bahwa meski Indonesia mencintai perdamaian, negara kita sejatinya lebih mencintai kemerdekaan.

Halaman:

Editor: Budi Nugraha

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Mahasiswa Apoteker dan UTA '45 Serukan Boikot PN UKAI

Kamis, 1 Desember 2022 | 22:05 WIB

Data Berbasis Desa Penting untuk Pembangunan Daerah

Kamis, 1 Desember 2022 | 19:16 WIB

KLHK Raih Peringkat Pertama SDGs Action Awards 2022

Kamis, 1 Desember 2022 | 16:36 WIB
X