Hilirisasi Industri Pertambangan Jadi Sebuah Keniscayaan

- Senin, 27 Juni 2022 | 01:15 WIB
Direktur MIND ID Dany Amrul  menegaskan,  hilirisasi Industri pertambangan sebuah krniscayaan
Direktur MIND ID Dany Amrul menegaskan, hilirisasi Industri pertambangan sebuah krniscayaan


JAKARTA,suaramerdeka-Jakarta.com-  Hilirisasi industri pertambangan menjadi sebuah keniscayaan agar Indonesia memiliki nilai tambah di sektor pertambangan, karena sejauh ini ekspor tambang yang dilakukan oleh Indonesia, baik tambang nikel, emas ataupun tembaga semuanya dalam kondisi mentah.

“Simpelnya, di sini nikel mentah dijual semisal lima rupiah. Diolah di sana hingga menjadi barang jadi atau setengah jadi, kemudian kita impor lagi, harganya itu bisa sampai 100 rupiah. Padahal resource-nya dari kita, kita hanya hanya dapat lima rupiah saja. Makanya kita investasi membuat pemurnian, smelter, agar hasil tambang bisa menjadi bahan setengah jadi sehingga ada nilai tambah dan kita tidak tergantung pada luar negeri,” ungkap Direktur MIND ID Dany Amrul di Surabaya, Minggu (26/6/2022).

Untuk itulah, MIND ID sebagai holding pertambangan berupaya merampungkan proyek pembangunan smelter yang berlokasi di Gresik di tahun 2023.

 “Kemajuan fisik sekarang sudah mencapai 32,5 persen dengan biaya yang sudah terserap US$990 juta atau sekitar Rp 13 hingga Rp 14 triliun,” terangnya.

Pembangunan hingga Desember 2022 ditarget sudah mencapai 50 persen dengan serapan investasi yang diperkirakan akan mencapai Rp 23 triliun.

“Ada tambahan sekitar Rp 10 triliun dan di Desember pembangunan ditarget telah mencapai 50 persen dan akhir tahun 2023 selesai,” tambah Dany Amrul.

Dengan dibangunnya smelter di Gresik, tidak hanya nilai tambah dari sisi ekspor tambang yang akan didapatkan, tetapi juga dari sisi tenaga kerja lokal yang bisa diserap. Ia menandaskan, dari nilai invesasti sebesar Rp 23 triliun tersebut, 98 persen tenaga kerja yang diserap adalah tenaga kerja lokal dan 50 persen dari 98 tersebut dari Jawa Timur.

“Sekitar 3.000 tenaga kerja dari Jatim. Karena kita sangat komitmen terhadap kearifan lokal. Bahwa MIND ID sebagai holding menjamin bahwa bisnis yang kita lakukan menggaransi kearifan lokal,” tukasnya.  

Oleh karena itu, MIND ID memerlukan dukungan dari Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI, khususnya Komisi VI dan Komisi VII serta semua semua regulator untuk mengawal keberlanjutan operasional smelter karena akan memberikan nilai tambah ekonomi yang sangat luar biasa bagi Indonesia.

“Yang kita perlukan dari DPR RI adalah dukungan keberlanjutan operasi tambang Freeport sesuai dengan life off mine plan Freeprot setelah tahun 2041. Life off mine plan Freeport tahun 2041 kan sudah selesai, nah ini bagaimana sementara cadangannaya masih besar dan akan bisa dioperasikan hingga tahun 2055-2060,” tandasnya.

Indonesia, lanjutnya, perlu melakukan renegosiasi terhadap self horder agreement dengan Freeport, termasuk dalam hal otonomi atau kemandirian pengelolaan Freeport di tangan anak bangsa.

“Renegosiasi harus secepatnya dilakukan khususnya dalam hal transfer off tecnologi, transfer off knowledge dan dalam hal kemandirian pertambangan karena sekarang secara sistem belum sepenuhnya mandiri. Saat ini kita belum sanggup karena teknologinya dari sana semua. Jangan kita sok-sokan sementara kita tidak mengusai teknologinya. Kita harus mempersiapkan roadmap kemandirian pengelolaan freeport di tangan anak bangsa dengan teknologi yang kita kuasai,” pungkasnya.

***

Editor: Budi Nugraha

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Sudah Punya Tiket, KIB Tak Buru-Buru Deklarasi Capres

Selasa, 4 Oktober 2022 | 17:54 WIB

Tragedi Kanjuruhan Jangan Sampai Terulang

Selasa, 4 Oktober 2022 | 13:59 WIB
X