Kejari Aceh Besar Serahkan 22 Kg Sisik Trenggiling

- Kamis, 21 Juli 2022 | 18:01 WIB
penyerahan barang bukti sisik trenggiling (nurokhman)
penyerahan barang bukti sisik trenggiling (nurokhman)
 
JAKARTA-Kejaksaan Negeri Aceh Besar menyerahkan barang bukti, 22 kilogram sisik trenggiling Pengendali Ekosistem Hutan Ahli Madya BKSDA Aceh di Aula Baharuddin Lopa Kejaksaan Negeri Aceh Besar, Rabu (20/7). Sisik trenggiling itu merupakan barang bukti perkara Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya.
 
Kepala Seksi Intelijen Kejaksaan Negeri Aceh Besar, Dedi Maryadi mengungkapkan, sisik trenggiling itu merupakan barang bukti dalam perkara tiga terpidana yakni, Firmansyah, Ahmad Yani dan Sandika Aprianka.
 
"Ketiga terpidana tersebut telah dilakukan eksekusi melalui surat Perintah Kepala Kejaksaan Negeri Aceh Besar yang dilaksanakan pada tanggal 23 Juni 2022," ujar Dedi kepada wartawan, Kamis (21/7).
 
Sementara itu, Kepala Kejaksaan Negeri Aceh Besar, Basril mengungkapkan, Indonesia merupakan negara dengan kekayaan Sumber Daya Alam Hayati terbesar di dunia setelah Brazil. Walaupun kekayaan 
Sumber Daya Alam Hayati yang ada di Indonesia termasuk yang terbanyak dan terbesar di dunia namun tingkat keterancaman keanekaragaman hayati dari kepunahan juga sangat tinggi. 
 
"Keterancaman tersebut terutama disebabkan oleh dua faktor utama, yaitu pemanfaatan keanekaragaman hayati yang berlebihan, 
termasuk secara ilegal dan kerusakan habitat yang disebabkan oleh konservasi dan penggunaan bahan-bahan berbahaya dalam pemanfaatan sumber daya alam."
 
 
Dikatakannya, salah satu satwa yang 
menjadi target incaran perburuan dan perdagangan ilegal saat ini adalah trenggiling. "Spesies ini diperdagangkan untuk dikonsumsi bagian tubuhnya, seperti daging, lidah, kulit, dan sisik yang dipercaya berkhasiat sebagai obat tradisional bagi masyarakat Tiongkok dan juga sebagai bahan baku narkoba," ujarnya.
 
Menurutnya, sisik trenggiling mempunyai kandungan zat adiktif Tramadol HCI yang merupakan zat adiktif analgesik untuk mengatasi nyeri, serta merupakan partikel pengikat zat pada psikotropika jenis sabu-sabu. "Dengan adanya kandungan zat adiktif tramadol HCI tersebut semakin memperjelas bahwa perburuan serta perdagangan hewan trenggiling tersebut akan semakin gencar dilakukan seperti halnya 
yang baru saja terjadi di wilayah Aceh Besar," ujarnya. (***)

Editor: Arif Muhammad Iqbal

Tags

Terkini

Tragedi Kanjuruhan Jangan Sampai Terulang

Selasa, 4 Oktober 2022 | 13:59 WIB
X