Indonesia Perlu Dorong Jepang Beralih Jadi Produsen Kendaraan Listrik

- Rabu, 27 Juli 2022 | 20:29 WIB
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto. (Biro KLIP Kemenko Perekonomian)
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto. (Biro KLIP Kemenko Perekonomian)

JAKARTA, suaramerdeka-jakarta.com - Persoalan untuk menggalakkan energi bersih terbarukan, kuncinya ada dua sektor utama. Yaitu kelistrikan dan otomotif.

"Sepanjang Jepang masih bertahan dengan produksi mobil berbahan bakar fosil, sulit bagi Indonesia untuk menerapkan energi baru terbarukan (EBT)," kata Direktur Eksekutif ReforMiner Institute Komaidi Notonegoro, Rabu (27/7).

Sebelumnya, Menko Perekonomian Airlangga Hartarto bertemu dengan sejumlah petinggi perusahaan otomotif di Jepang. Dimana dirinya mengantongi sejumlah komitmen investasi senilai triliunan rupiah, untuk produk kendaraan yang ramah lingkungan.

"Saya meyakini bahwa permintaan kendaraan listrik baik roda empat maupun roda dua di Indonesia maupun di kawasan ASEAN. Dimana kedepannya akan terus meningkat," ujar Airlangga.

Dia menambahkan, Indonesia dapat dijadikan industrial base produksi Electric Vehicle (EV). Yakni untuk dipasarkan di kawasan ASEAN maupun di Indonesia.

"Dunia mulai beralih dari memproduksi kendaraan berbahan bakar fosil ke listrik. Ini sejalan dengan kebijakan transisi energi Indonesia yang berkomitmen untuk mencapai Net Zero Emission (NZE) di tahun 2060 serta Nationally Determined Contributions (NDCs) pengurangan emisi karbon 29 persen pada tahun 2030," tandasnya.

Namun menurut Komaidi, sepanjang para negara produsen otomotif masih bertahan di konvensional, maka akan relatif berat bagi Indonesia. Apalagi, sejauh ini industri otomotif Jepang belum masuk ke pasar mobil listrik.

"Justru China dan Korea. Sementara dominasi Jepang di pasar otomotif Indonesia cukup besar. Karenanya, selain menjaring investor asing, pemerintah juga perlu memperhatikan keberlangsungan industri otomotif secara keseluruhan," tegasnya.

Pekerjaan Rumah
Kemudian, bagaimana nasib yang mobil sudah eksis. Termasuk nasib infrastruktur penunjang, seperti pabrik, bengkel dan karyawan.

Halaman:

Editor: Arif Muhammad Iqbal

Tags

Terkini

Semeru Awas! Hampir 2 Ribu Jiwa Mengungsi

Minggu, 4 Desember 2022 | 18:18 WIB

Prita Kemal Gani Terus Menginspirasi.

Minggu, 4 Desember 2022 | 11:46 WIB

Peneliti Asing Erik Meijaard Dilaporkan Melanggar UU

Sabtu, 3 Desember 2022 | 23:57 WIB

Gempa 6,4 Garut, BNPB Sebut Ada Warga yang Terluka

Sabtu, 3 Desember 2022 | 20:59 WIB
X