Ngeri, Kuota Segera Habis, Penyaluran BBM Bersubsidi Tepat Sasaran Wajib Dilakukan

- Selasa, 2 Agustus 2022 | 08:08 WIB
Layanan antar BBM Pertamina bagi pemudik terjebak kemacetan dan habis BBM.
Layanan antar BBM Pertamina bagi pemudik terjebak kemacetan dan habis BBM.

JAKARTA, Jakarta.Suaramerdeka.com, - Pengaturan penyaluran tepat sasaran menjadi jalan keluar utama untuk antisipasi habisnya kuota BBM bersubsidi yang diprediksi akan terjadi sebelum akhir tahun nanti. Pemerintah harus segera mengambil sikap agar tidak lagi terjadi kegaduhan.

Josua Pardede, Kepala Ekonom Bank Permata, menilai kuota Pertalite yang akan habis berpotensi mengakibatkan kelangkaan Pertalite ke depan. Dalam mengontrol konsumsi, sistem kuota cenderung tidak efektif karena mengakibatkan kelangkaan diberbagai tempat dan potensi kebocoran besar.

“Upaya Pertamina untuk menggunakan aplikasi digital jadi jalan untuk menseleksi siapa-siapa saja yang berhak menerima BBM subsidi. Tinggal impelementasi penggunaan aplikasi tersebut yang kini harus bisa disiapkan dan dieksekusi dengan baik,” katanya di Jakarta, Selasa (2/8/2022).

Baca Juga: Bohong

Menurut Josua, akselerasi penerapan aplikasi bagi masyarakat dapat mengatasi hal ini, karena aplikasi dapat secara tepat mengatur jumlah konsumsi bagi masing-masing konsumen. “Tidak seperti kuota yang cenderung masyarakat mampu dapat membeli Pertalite lebih banyak karena memiliki daya beli yang lebih besar," ungkap Josua.

Sementara itu, Komaidi Notonegoro, Direktur Eksekutif Reforminer Institute, menyatakan prediksi habisnya kuota BBM bersubsidi, terutama pada Pertalite memang wajar terjadi. Peningkatan konsumsu Pertalite tahun ini makin menjadi seiring dengan hilangnya Premium dari pasaran.

Baca Juga: Muhaimin Iskandar Akan Wajibkan Presiden Nonton Film Pesantren.

Berdasarkan kalkulasi yang dilakukan Reforminer Institute, kebutuhan normal Premium adalah kisaran 28-30 juta Kiloliter (KL). Hal tersebut karena sebelum adanya program penghapusan Premium konsumsi Pertalite sudah 22 juta KL. Sementara konsumsi Premium Status terakhir sekitar 6-8 juta KL.

"Jadi wajar kalo 23 juta Kl maksimal hanya sampai Agustus atau September 2022 karena itu menjadi penting agar ada pengaturan tepat sasaran," kata Komaidi.

Halaman:

Editor: Budi Nugraha

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Mayoritas Masyarakat Puas dengan Program PTSL

Kamis, 6 Oktober 2022 | 17:56 WIB

Bertemu Mardiono, Airlangga Diskusikan Sejumlah Hal

Kamis, 6 Oktober 2022 | 17:17 WIB

DPR Dorong Rusia Hentikan Perang dengan Ukraina

Kamis, 6 Oktober 2022 | 15:47 WIB
X