Salah Pikir Soal Respon Regulasi BPA

- Rabu, 10 Agustus 2022 | 11:06 WIB
Ilustrasi (Pixabay.com)
Ilustrasi (Pixabay.com)



JAKARTA, suaramerdeka-jakarta.com, Kontroversi air minum dalam kemasan (AMDK) dalam galon polikarbonat mengandung senyawa kimia berbahaya Bisphenol A (BPA), masih bergulir. Rancangan regulasi Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) RI yang akan mengatur penggunaan galon BPA pada Air Minum Dalam Kemasan (AMDK) masih disorot sejumlah kalangan.

Lontaran respon sebagian akademisi juga beragam, salah satunya dengan melontarkan pembelaan bahwa galon BPA ‘aman.’ Salah seorang akademisi yang bersikukuh bahwa BPA ‘aman’ adalah pengajar biokimia Fakultas MIPA Institut Pertanian Bogor (IPB), Syaefudin, PhD. Ia berpendapat bahwa senyawa kimia BPA akan dikeluarkan lagi dari dalam tubuh orang yang tidak sengaja mengkonsumsinya melalui urin.

Namun, ia secara gamblang mengatakan setuju jika BPOM tetap melakukan pengawasan ketat terhadap konsentrasi BPA yang masuk ke dalam tubuh manusia melalui air minum dalam kemasan galon plastik keras.
“Kita sebenarnya tidak tahu berapa konsentrasi BPA yang ada di sekeliling kita. Kalau tidak dibatasi, bisa saja ada yang nakal meningkatkan konsentrasi BPA,” katanya.

Syaefudin menyiratkan, bahwa senyawa BPA memang punya potensi bahaya bila tidak diawasi oleh lembaga yang punya otoritas seperti BPOM. Sejauh ini, faktanya hanya segelintir negara berkembang yang masih belum mengatur ketat kemasan galon BPA dengan regulasi. Vietnam dan Indonesia adalah contoh negara segelintir itu.

Baca Juga: Sinergi dengan Badan Pemeriksa Keuangan, OJK Perkuat Tata Kelola

Sementara, di negara maju kemasan plastik BPA sudah dilarang melalui regulasi; utamanya karena dinilai bisa memicu gangguan jantung, ginjal, kanker, gangguan hormon pada laki-laki dan perempuan, hingga gangguan mental pada anak.

Galon BPA —berkode plastik buncit, nomor 7. Selain sulit didaur ulang, juga sangat rentan terhadap gesekan dan sinar matahari dalam proses distribusinya dari pabrik hingga ke tangan konsumen. Hal ini sangat berpotensi melepaskan senyawa BPA hingga menyebabkan air di dalam kemasan terkontaminasi.

Belum lagi tidak adanya kontrol terhadap galon BPA di pasaran yang sudah berusia di atas lima tahun, atau galon isi ulang yang dicuci dengan deterjen di pinggir jalan selama bertahun-tahun. Meski diklaim tahan panas, tidak ada juga yang mengontrol sejauh mana kontaminasi yang terus menerus terjadi pada air dalam kemasan galon BPA, baik karena kenaikan suhu temperatur maupun karena sebab lain seperti gesekan atau perlakukan saat pembersihan galon.

Galon BPA pastinya sangat berbeda dari plastik berbahan Polyethylene Terephthalate berkode plastik nomor 1, atau disingkat PET, yang dikenal relatif aman dan digunakan di seluruh dunia. Sebagai contoh, bahkan Jepang sudah beralih 100 persen ke plastik PET untuk kebutuhan kemasan di negeri itu.

Halaman:

Editor: Arif Muhammad Iqbal

Tags

Terkini

Diperhitungkan Prabowo, Ridwan Kamil Tak Mau Ge-er

Senin, 26 September 2022 | 16:52 WIB

Kelompok Buruh Samarinda Dukung Firli Maju Pilpres

Senin, 26 September 2022 | 16:38 WIB

Ketua Dewan LVRI:Pancasila,Kunci Persatuan

Senin, 26 September 2022 | 16:28 WIB

Riko Dapat Perhatian Media Ceko. Kudela: Dia Hebat!

Senin, 26 September 2022 | 11:05 WIB

FFWI XII 2022 Putuskan 54 Film Pilahan

Senin, 26 September 2022 | 08:30 WIB

Polri Pastikan Usut Ledakan di Asrama Polisi Sukoharjo

Minggu, 25 September 2022 | 21:58 WIB
X