Haji Eko, Ksatria Sebenarnya.

- Minggu, 14 Agustus 2022 | 08:19 WIB
Haji Eko Hendrawan (tengah) di Dojo-nya. (Bb)
Haji Eko Hendrawan (tengah) di Dojo-nya. (Bb)

Oleh Benny Benke.

JAKARTA, Jakarta.Suaramerdeka.com,- "Jika Anda ingin melihat sekilas ke dalam jiwa manusia dan mengenal seorang pria, jangan repot-repot menganalisis caranya diam, berbicara, menangis, dan melihat betapa dia tergerak oleh ide-ide mulia; Anda akan mendapatkan hasil yang lebih baik jika Anda hanya melihatnya tertawa. Jika dia tertawa dengan baik, dia pria yang baik".

Haji Eko Hendrawan bukan saja mampu tertawa dengan sangat baik. Dipastikan membuat nasehat Fyodor Dostoevsky di atas, sangat muat dengan dirinya. Lebih dari sekedar tertawa dengan lepas, pemilik ban hitam sekaligus simpai (guru) Kopo Ryu Ju-Jitsu Indonesia, ini adalah kesatria dalam arti yang sebenarnya.

Jika kawan-kawan ingat kasus yang terjadi pada November 2013; saat seorang penyair dilaporkan ke polisi, karena tuduhan eksploitasi seksual atau pemerkosaan kepada seorang mahasiswi Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya UI hingga mengakibatkan kehamilan, haji Eko-lah yang terkena richocet, atau collateral damage-nya.

Akibat memberitakan kasus di atas, dengan judul yang ditimbang kurang fair oleh publik kepada korban, haji Eko menerima bully dari "seantero negeri". Teristimewa dari penggiat feminisme. Sampai-sampai nomer tempol pribadinya dihujani SMS dari banyak pihak. Dari SMS paling santun, hingga kasar. Seperti, "Saya doakan anak Anda akan menjadi korban pemerkosaan," dan SMS kasar lainnya yang tak pantas dituliskan di sini.

Akibat hantaman teror yang tiada henti itulah, meski sebelumnya judul beritanya telah mendapatkan persetujuan atasan di kantor tempat bekerja, haji Eko merasa berdiri sendiri. Temen sekantor terbaca menyelamatkan diri sendiri. Layaknya drama kemanusiaan kebanyakan.

Hingga akhirnya dia merilis lima point permintaan maaf ke publik, via Twitter pribadinya. Yang intinya meminta maaf atas penulisan judul yang ditimbang melukai korban. Sedangkan point lainnya, menyatakan dia akan mundur dengan kesadaran penuh dari dunia kewartawanan.

Begitu lima point itu dirilis, seketika, tanggapan publik yang tadinya menghujat, berbalik arah menjadi memuji setinggi langit. "Ternyata batasan hujatan dengan sanjungan setipis kain Jie," kata Haji Eko kepada saya, Mohammad Akbar dan Irish Blackmore.

Sedangkan niat mundurnya, sayangnya malah menjadi bahan ketawaan di tempat kerjanya. Sampai-sampai atasan kantor mengusulkan "golden escape" dengan membuat rencana "pemecatan" dengan harapan pesangon sejumlah rupiah dikantonginya. Daripada sekedar resign, tapi Eko tidak mendapatkan apa-apa, kecuali dua kali gaji semata.

Halaman:

Editor: Budi Nugraha

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Mayoritas Masyarakat Puas dengan Program PTSL

Kamis, 6 Oktober 2022 | 17:56 WIB

Bertemu Mardiono, Airlangga Diskusikan Sejumlah Hal

Kamis, 6 Oktober 2022 | 17:17 WIB

DPR Dorong Rusia Hentikan Perang dengan Ukraina

Kamis, 6 Oktober 2022 | 15:47 WIB
X