DPR Harap Cuitan Dubes Ukraina Disikapi Kemenlu Secara Bijak

- Selasa, 16 Agustus 2022 | 11:03 WIB
Presiden Ukraina, Volodymyr Zelensky, (Istimewa )
Presiden Ukraina, Volodymyr Zelensky, (Istimewa )

JAKARTA: JAKARTA: Anggota Komisi I DPR, Bobby Adhityo Rizaldi menilai cuitan Duta Besar#Ukraina, Vasyl Hamianin di media sosial Twitter yang dianggap kurang bijak jika mengacu Konvensi Wina tentang hubungan diplomatik dapat segera dijelaskan ke pihak Kementerian Luar Negeri dan disikapi dengan bijak.

Dia menjelaskan jika dilihat Pasal 41 Konvensi Wina maka Duta Besar#Ukraina, Vasyl Hamianin tidak mencampuri urusan dalam negeri Indonesia yang cenderung bersikap sangat responsif terhadap tindakan agresif yang dilakukan Israel terhadap Palestina, namun terkesan permisif pada agresi#Rusia terhadap#Ukraina.

“Walaupun cuitan tersebut kurang tepat dalam merespon kebijakan politik Indonesia yang berdaulat dalam perang ini, tapi rasanya tidak perlu diperpanjang ataupun sampai mengganggu hubungan bilateral kedua negara,” tuturnya, Senin (15/8).

Semoga, lanjutnya, Pak Vasyl dan#Kemenlu sudah sama-sama bijak memahami posisi politik masing-masing dan tidak perlu meneruskan polemik di media sosial karena tentu Indonesia memiliki kebijakan dalam memberikan simpati pada#Ukraina tanpa perlu diperbandingkan dengan negara lain.

Dia berharap cuitan di media sosial muncul akibat emosi Dubes#Ukraina dapat diselesaikan secara musyawarah dengan pihak#Kemenlu. “Ke depan hendaknya, Beliau tidak perlu mempertanyakan lagi sikap Indonesia, sampaikan saja apa setuju dan terima kasih, atau kecewa dan menentang, supaya jelas posisinya.”

Pendapat lebih detail dinyatakan dosen Hubungan Internasional Universitas Indonesia (UI) Ali Abdullah Wibisono yang menilai pemanggilan Kemlu didasari prioritas Indonesia adalah menjaga jalur komunikasi yang efektif dengan semua kekuatan geopolitik.

“Kebijakan luar negeri Indonesia adalah melakukan balancing antara kekuatan-kekuatan geopolitik yang berkompetisi, sehingga kecaman terhadap#Rusia tidak dilakukan untuk mencegah alienasi#Rusia dari relasi dengan Indonesia, maupun dengan ASEAN,” tuturnya.

Sementara alasan berikutnya adalah Indonesia sebagai negara kunci bagi ASEAN sedangkan#Rusia adalah anggota ASEAN Regional Forum dan East Asia Summit. Dengan alasan tersebut kehadiran#Rusia di dua mekanisme regional yang bersentral pada ASEAN ini diusahakan tidak berakhir.

“Jika Indonesia memilih untuk mengutuk#Rusia, maka seluruh relasi diplomatik dan keamanan Indonesia dengan#Rusia pun berakhir, begitu juga dengan sikap ASEAN yang akan mengucilkan#Rusia,” paparnya. 

Halaman:

Editor: Budi Nugraha

Sumber: rilis

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Semeru Awas! Hampir 2 Ribu Jiwa Mengungsi

Minggu, 4 Desember 2022 | 18:18 WIB

Prita Kemal Gani Terus Menginspirasi.

Minggu, 4 Desember 2022 | 11:46 WIB

Peneliti Asing Erik Meijaard Dilaporkan Melanggar UU

Sabtu, 3 Desember 2022 | 23:57 WIB

Gempa 6,4 Garut, BNPB Sebut Ada Warga yang Terluka

Sabtu, 3 Desember 2022 | 20:59 WIB
X