Kemuliaan di Pesantren Tahfiz Difabel KH Luthfi Fathullah.

- Sabtu, 27 Agustus 2022 | 15:47 WIB
Awanda dan Resta, diberkatilah kalian berdua  (Benny Benke )
Awanda dan Resta, diberkatilah kalian berdua (Benny Benke )

JAKARTA, Jakarta.Suaramerdeka.com,- Resta D Nayla (15) dan Maydhi Yaa Awanda (15) adalah satu dari sekian banyak siswi tunarungu di Pesantren Tahfiz Difabel KH Luthfi Fathullah, di Bilangan Lebak Bulus, Jakarta Selatan. Meski lahir dan besar dalam kondisi tidak dapat mendengar apapun yang berbunyi di dunia ini, tidak mengurangi sedikit niat dua dara cantik itu ingin menjadi penghafal Al-Qur'an.

Resta sebagai atlit bulutangkis, dan pernah beberapa kali menjuarai kejuaran bulutangkis. Juga Awanda, yang juga pernah turut serta mengikuti berbagai acara modeling, ingin mengenal Al Qur'an seperti mengenal telapak tangannya sendiri.

Baca Juga: Ferdy Sambo dan Kekuasaan.

Oleh karena itu, mereka masuk ke  Pesantren Tahfiz Difabel KH Luthfi Fathullah. Yang pada Sabtu (27/8/2022) pagi diresmikan pengoperasiannya oleh Gubernur DKI Jakarta H. Anies Baswedan PhD. Sekaligus orang nomor satu di Jakarta itu menyerahkan sertifikat IMB Pesantren Tahfiz Difabel KH Luthfi Fathullah.

Nama Pesantren Tahfiz Difabel KH Luthfi Fathullah diberikan Anies Baswedan sebagai bentuk terima kasih dan hormat kepada KH. Luthfi bin Fathullah bin Abdul Mughni. Ahli hadits yang memiliki wawasan dan pengetahuan yang dalam dan melek iptek. Kiai Lutfi adalah cucu ulama besar KH Abdul Mughni asal Betawi.

Baca Juga: Ferdy Sambo dan Wajah Kepolisian Kita

Kembali ke soal Resta D Nayla dan Maydhi Yaa Awanda. Dua dara ayu yang berbicara dengan riang dengan kami, dengan bantuan penerjemah isyarat sekaligus salah satu pengajar, In'am Ikroma. Apa yang membuat Resta dan Awanda ingin menjadi penghafal Al Qur'an dengan segala keterbatasannya?

Pesantren Tahfiz Difabel KH Luthfi Fathullah diresmikan pengoperasiannya oleh Gubernur DKI Jakarta H. Anies Baswedan PhD. (Benny Benke )

Meski sebagaimana dikatakan
Syekh Ibrahim al-Baijuri dari Al Azhar dalam Hasyiyat al-Baijuri ala Jauharat at-Tahuid mengatakan;  “Sebagian para imam mazhab Syafi’iyah berkata: ‘Bila Allah menciptakan seorang manusia tunanetra sekaligus tunarungu, maka gugurlah kewajiban berpikir tentang Tuhan dan segala tuntutan hukum baginya".

Halaman:

Editor: Budi Nugraha

Tags

Artikel Terkait

Terkini

HT Pimpin Konsolidasi & Bimtek Partai Perindo

Jumat, 9 Desember 2022 | 10:46 WIB

Pengesahan RKUHP Meresahkan Kalangan Pers

Jumat, 9 Desember 2022 | 10:22 WIB

KUHP Tidak Berlaku untuk Kegiatan Kemerdekaan Pers

Jumat, 9 Desember 2022 | 09:37 WIB
X