Mahendraparvata; Pakansi Tari, Candi dan Arkeologi

- Senin, 5 September 2022 | 11:08 WIB
Mahendraparvata (BWCF)
Mahendraparvata (BWCF)
 
JAKARTA, Jakarta.Suaramerdeka.com, - Sebuah gambar mungkin bernilai seribu kata, tetapi kata-kata yang disusun dengan baik, bernilai layaknya sebuah gambar (film) berharga jutaan dolar. Adagiun Richelle E. Goodrich itu tampaknya ingin dilunaskan Seno Joko Suyono (SJS) saat menggarap film dokumenter Mahendraparvata
 
SJS yang merangkap tugas sebagai dramaturg-skenario sekaligus sutradara -- meski dia enggan menyematkan diksi sutradara -- tahu betul kekuatan katakata yang dinarasikan dengan baik, kemudian dilaraskan dengan keluarbiasaan gambar (motion picture) yang kemudian dihidupkan dengan suara, atau latar musik yang pas. 
 
Maka lahirlah dokumenter yang digarap serius di Kamboja dan Indonesia, ini. Atau dalam bahasa SJS, dokumenter ini sejenis 
Dance Film sederhana produksi Borobudur Writers and Cultural Festival (BWCF) yang menyajikan karya tari dengan latar situs situs arkeologis di kawasan perbukitan Phnom Kulen di Kamboja dan kawasan Borobudur, di Jawa.
 
Surti Respati dalam Mahendraparvata (BWCF )
 
Menjadi istimewa, karena SJS dan timnya, selama 15 hari, mabur langsung ke Kamboja, kemudian menghidupkan narasinya menjadi bahasa yang gambar yang tidak mengecewakan. Dengan melibatkan  dua  penari asli dari Kamboja dan dua penari Jawa
 
"Karya ini memetaforakan adanya hubungan  Jawa  kuno dan Kamboja kuno lewat perjalanan sepasang topeng, " kata Seno Joko Suyono sebelum preview perdana film yang ditaja Direktorat Perfilman Musik dan Media (PMM), Dirjen Kebudayaan, Kemendikbud Ristek RI di Jakarta, Sabtu (3/9/2022).
 
SJS menjelaskan, dalam studi arkeologi, hubungan Jawa dan Kamboja di masa kuno dapat diketahui dari terjemahan prasasti Sdok Kak Thom yang ditemukan di perbatasan Thailand dan Kamboja
 
Prasasti ini menjelaskan bahwa pada abad 8-9 M terdapat hubungan antara Jayawarman II, penguasa Kamboja dan Jawa. Prasasti Sdok Kak Thom ditulis pada tahun 974 Saka atau tahun 1052 Masehi. Terdiri dari 340 baris (194 baris ber bahasa Sanskrit, 146 baris berbahasa Khmer kuno).
 
Mahendraparvata (BWCF )
 
Prasasti ini pernah diterjemahkan oleh George Cœdès, arkeolog Prancis yang khusus melakukan  penelitian di wilayah Asia Tenggara. Dalam hasil terjemahan Coedes disebut Raja Jayawarman II, penguasa baru di Kamboja untuk beberapa lama pernah tinggal di Jawa
 
Dan setiba di kawasan Phnom Kulen dia melakukan ritual keagamaan untuk menahbiskan diri sebagai Chakravartin penguasa jagad yang tidak tergantung lagi pada Jawa. Jayawarman II menjadi raja pertama Kekaisaran Khmer pada tahun 802. Di bukit Phnom Kulen itu kemudian Jayawarman II mendirikan kota  suci bernama Mahendraparvata. 
 
"Sampai sekarang masih terjadi perdebatan di kalangan arkeolog Asia Tenggara mengenai kata Jawa yang ada di Prasasti Sdok Kak Thom. Apakah Jawa yang tertulis di situ betul merupakan Jawa di Indonesia atau yang dimaksud Champa (Wilayah Vietnam sekarang)," kata SJS. 
 
Darmawan Dadijono dalam Mahendraparvata (BWCF )
 
Mereka yang menganggap kata Jawa di prasasti itu betul menunjuk Jawa di Indonesia, memperkirakan selama Jayawarman II berada di Jawa – ia berada dalam lingkungan istana Syailendra. Dan maka dari itu diperkirakan sempat melihat proses pembangunan Borobudur.   
 
Data SJS boleh kuat, tapi menghidupkan narasi dalam eksekusi film dokumenter menjadi persoalan sendiri. Paling tidak di mata Nurman Hakim, sutradara sejumlah film keren itu, menilai Mahendraparvata terlalu berlarat-larat dan cenderung membosankan. Buktinya, yang bablas ketiduran saat pemutaran film bukan satu dua. 
 
"Durasinya agak kepanjangan. Kalau 50 menitan akan lebih kuat. Lalu editingnya terlalu banyak cutting. Harusnya sedikit saja supaya tidak menganggu tarian dan landscape alam, " kata Nurman Hakim. 
 
Mahendraparvata; Persaudaraan Candi di Jawa-Kamboja. (BWCF )
 
Apa yang dikatakan Nurman Hakim boleh kita perdebatkan. Memang, menarasikan keberadaan prasasti Sdok Kok Tom yang menyebutkan adanya relasi erat antara Jawa-Kamboja di abad 8-9 M. Dengan ditemukannya Candi Sdok Kok Tom (kini berada di wilayah Thailand) yang menyebut prasasti Sdok Kok Tom memberikan informasi mengenai awal berdirinya Dinasti Warman di Kamboja – dinasti yang beberapa abad kemudian membangun candi-candi hebat di kawasan Angkor Wat, via bahasa tutur narator memang sangat melelahkan. Bawel.
 
Secara keilmuan, memang masih menjadi perdebatan di kalangan arkeolog, apakah Jawa yang disebut di Prasasti Sdok Kok Tom adalah Jawa  - pulau Jawa atau sebuah lokasi yang berada di wilayah Campa (Vietnam) sekarang. 
 
Dalam prasasti itu diuraikan bahwa seorang pangeran Khmer bernama Jayawarman II selama beberapa lama berada di Jawa. Para arkeolog yang setuju bahwa Jawa yang tertulis di prasasti Sdok Kok Tom adalah memang pulau Jawa - memperkirakan tatkala Jayawarman II di Jawa, dia berada di lingkungan istana Syailendra. Dan  saat itulah, sekali lagi, ia sempat menyaksikan proses pembangunan Candi Borobudur.
 
Tapi menyajikan persoalan di atas dengan tarian (dance) atau koreografi tentu bukan soal mudah. Makanya narator yang menghantarkan narasi harus cerewet sejadinya. 
 
Koreografi, Sinema dan Arkeologi.
 
Hun Pen dan Chamroeun Dara. (BWCF )
 
SJS menuturkan, kiwari di Indonesia wacana tentang Dance Film berkembang. Dance Film adalah bagian tak terpisahkan dari seni tari. Dance Film merupakan “panggung” baru bagi koreografer. Dalam sebuah Dance Film: gerak,  bloking-bloking dan dramaturgi tari diambil dari sudut-sudut tafsir sinematik. Dance Film walhasil membuka kemungkinan-kemungkinan baru dalam dunia tari.   
 
Menyadari hal itu, SJS bersama
BWCF, menyajikan Dance Film sederhana yang berkaitan dengan dunia arkeologi. Arkeologi bukanlah dunia asing bagi tari kontemporer Indonesia. 
 
Banyak penari dan empu gerak seperti almarhum Suprapto Suryodarmo berproses dari candi ke candi bahkan di lokasi-lokasi peninggalan megalitik. Sardono W Kusumo juga kerap melakukan eksplorasi di berbagai candi di Indonesia sampai kuil-kuil Jepang. Juga beberapa nama lainnya yang menarik di puncak gunung.
 
Tapi dalam Mahendraparvata, yang berarti “Gunung Indra Agung”, SJS melibatkan Darmawan Dadijono dan Sruti Respati. Sedangkan penari Kambojanya adalah Hun Pen dan Chamroeun Dara. 
 
Hun Pen dan Chamroeun Dara. (BWCF )
 
Dalam hantaran tarian keempat penari itulah, persoalan persaudaraan Candi Candi di Kamboja dan Jawa (Borobudur) disajikan, dengan bahasa sinema dan bahan arkeologi, yang dijembatani dengan sepasang topeng ajaib yang dilarung.
 
Nah, metafora perjalanan sepasang topeng gaib yang terombang ambing dari sungai di Kamboja yang bening sampai Jawa atau tepatnya di Kali Elo Magelang yang butek kecoklatan itulah, yang menjadi menu utama Mahendraparvata.
 
Selebihnya, fokus Mahendraparvata agak melenceng saat topeng sampai ke Jawa, dan persoalan Gereja Bethlehem van Java di Muntilan, yang sempat dibakar pemuda pejuang karena kawatir akan jadi markas Belanda pada 1948 saat Agresi Milter, dipaksakan masuk ke cerita. 
 
Hun Pen dan Chamroeun Dara. (BWCF )
 
Meski Yessy Apriati atau Echi sebagai Pimpinan Produksi mengatakan, cerita Bethlehem van Java masuk di cerita atas nama toleransi belaka. Sebagaimana BWCF yang mengusung semangat keberagaman dan penghormatan kepada sesama. 
 
Tapi memaksakan cerita yang tidak nyambung dalam bingkai arkeologi besar hubungan candi di Kamboja dan Jawa (Borobudur) adalah ngoyo woro. Meski tidak meruntuhkan hormat kami pada film dokumenter ini. (Bb).
 

Editor: Budi Nugraha

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Semeru Awas! Hampir 2 Ribu Jiwa Mengungsi

Minggu, 4 Desember 2022 | 18:18 WIB

Prita Kemal Gani Terus Menginspirasi.

Minggu, 4 Desember 2022 | 11:46 WIB

Peneliti Asing Erik Meijaard Dilaporkan Melanggar UU

Sabtu, 3 Desember 2022 | 23:57 WIB

Gempa 6,4 Garut, BNPB Sebut Ada Warga yang Terluka

Sabtu, 3 Desember 2022 | 20:59 WIB
X