Gratifikasi Berangkat dari Kebiasaan Tapi Beda Lagi Ketika Ada Niat Jahat

- Senin, 19 September 2022 | 12:55 WIB
Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menetapkan Rektor Universitas Lampung (Unila) Karomani, sebagai tersangka kasus suap penerimaan calon mahasiswa baru di lingkungan kampus tersebut. (Screenshoot instagram/@pikiranrakyat)
Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menetapkan Rektor Universitas Lampung (Unila) Karomani, sebagai tersangka kasus suap penerimaan calon mahasiswa baru di lingkungan kampus tersebut. (Screenshoot instagram/@pikiranrakyat)

BANDUNG, jakarta.suaramerdeka.com - Gratifikasi sejatinya bukan suatu tindak pidana melainkan kebiasaan masyarakat untuk sekadar berterimakasih dengan memberikan sesuatu yang berbentuk materil.

Hanya saja, perkembangannya, ekses dari gratifikasi bisa berubah menjadi bermasalah ketika dalam praktiknya mengganggu performa pelayanan publik yang seharusnya menjadi kewajiban.

"Inilah yang melandasi gratifikasi menjadi permasalahan dan dilarang demi menjaga akuntabilitas layanan. Dalam masa peralihan ini tentu tidak mudah dalam menerapannya, bahkan tak menutup kemungkinan terjadi pula over kriminalisasi yaitu tindakan kriminalisasi yang berlebihan yang berpotensi menimbulkan ketidakadilan," kata praktisi hukum, Aang Sirojul Munir pada saat FGD yang dihelat Forum Bhayangkara Indonesia bertajuk "Hukum, Kriminal, dan Kriminalisasi" di GIM Bandung, Minggu (18/9/2022) seperti dalam keterangan yang diterima.

Dijelaskan pula, gratifikasi berbeda dengan suap mengingat merujuk pada referensi, suap didasari pada adanya pertemuan kehendak antara si pemberi dan si penerima karena memiliki kewenangan yang akan membantu terjadinya sesuatu yang dikehendaki.

Baca Juga: Tak Amplop, Tak Suap

Artinya, jelasnya, antara penerima dan pemberi bertemu merencanakan. Inilah unsur yang harus dipenuhi. Dengan demikian, penerima dan pemberi sama-sama menerima sanksi pidana.

Sedangkan penggiat anti korupsi, Yeni Suripto menilai bahwa potensi gratifikasi tak jarang terjadi pada proses seperti pengadaan barang dan jasa. Pola-polanya, katanya, terdiri dari beragam modus.

"Ini berkaitan berelasi, perkuat relasi. Dari mulai karaokean hingga pemberian cindera mata, supaya program, projectnya diperhatikan, karena kompetitornya kan banyak," katanya.

Baca Juga: Serangan Nikita Mirzani Akhirnya Ditanggapi Hacker Bjorka, Nikita: Elo Hacker Apa Tukang Ngarang?

Halaman:

Editor: Budi Nugraha

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Semeru Awas! Hampir 2 Ribu Jiwa Mengungsi

Minggu, 4 Desember 2022 | 18:18 WIB

Prita Kemal Gani Terus Menginspirasi.

Minggu, 4 Desember 2022 | 11:46 WIB

Peneliti Asing Erik Meijaard Dilaporkan Melanggar UU

Sabtu, 3 Desember 2022 | 23:57 WIB

Gempa 6,4 Garut, BNPB Sebut Ada Warga yang Terluka

Sabtu, 3 Desember 2022 | 20:59 WIB
X