Holding Perkebunan Nusantara PTPN III (Persero) Launching Produk Unggulan Hasil Kerja Sama Riset IPFRI

- Kamis, 22 September 2022 | 09:59 WIB
Launching produk pupuk unggulan Glow Green dan Biosilac, serta tiga bahan tanaman Kakao Varietas ICCRI 09, Klon Jati, dan Klon Kayu Putih (Dok: PTPN III)
Launching produk pupuk unggulan Glow Green dan Biosilac, serta tiga bahan tanaman Kakao Varietas ICCRI 09, Klon Jati, dan Klon Kayu Putih (Dok: PTPN III)

JAKARTA, suaramerdeka-jakarta.com – Holding Perkebunan Nusantara PTPN III (Persero) bersama Perum Perhutani menggelar launching produk unggulan hasil kerja sama riset dengan Indonesia Plantation & Forestry Research Institute (IPFRI). Acara tersebut dilaksanakan secara hybrid di Gedung Agro Plaza, Kuningan, Jakarta Selatan pada Rabu, 21 September 2022.

Sejumlah produk unggulan yang diluncurkan tersebut, yakni dua produk pupuk bernama Glow Green dan Biosilac, serta tiga bahan tanaman bernama Kakao Varietas ICCRI 09, Klon Jati, dan Klon Kayu Putih.

Pupuk Glow Green, Biosilac, dan bahan tanaman Kakao Varietas ICCRI 09, merupakan hasil pengembangan dan riset yang dilakukan oleh PT Riset Perkebunan Nusantara sebagai anak usaha Holding Perkebunan Nusantara PTPN III (Persero). Sementara, Klon Jati, dan Klon Kayu Putih, adalah produk hasil riset Perum Perhutani.

Baca Juga: Setelah Vakum Dua Tahun Karena Pandemi, Livoli Kembali Digelar Tahun Ini

Peluncuran produk unggulan tersebut, dihadiri oleh Wakil Menteri BUMN I Pahala N. Mansury, Asisten Deputi Bidang Usaha Perkebunan dan Kehutanan Kementerian BUMN Rachman Ferry Isfianto, Direktur Utama Holding Perkebunan Nusantara PTPN III (Persero) Mohammad Abdul Ghani, dan Direktur Utama Perum Perhutani Wahyu Kuncoro.

Selain peninjauan langsung produk yang di-launching, agenda tersebut juga diisi dengan talkshow terkait Policy Brief: Kajian Analisis Ancaman Resesi Global dan Dampak pada PTPN Group, serta talkshow tentang produk bahan tanam dan pupuk unggulan PTPN III dan Perhutani.

Direktur Utama Holding Perkebunan Nusantara PTPN III (Persero), Mohammad Abdul Ghani, dalam sambutannya mengatakan, saat ini, beberapa tantangan yang harus dihadapi sektor perkebunan dan kehutanan, yakni mahalnya harga pupuk, perubahan cuaca dan iklim yang tidak menentu akibat dari climate change, serta produktivitas beberapa komoditas perkebunan dan kehutanan yang masih rendah. “Oleh karenanya, peran dari research institute menjadi sangat penting untuk meningkatkan daya tahan, sekaligus daya saing dari sebuah korporasi,” ujarnya.

Baca Juga: Cerita Hotman Paris Akui Sudah Sanggupi Bela Ferdy Sambo, Ada Keluarga Yang Melarangnya

“Pada tahun 1911 pertama kelapa sawit dikembangkan sebagai tanaman komersial yang mana sebelumnya hanya dikenal sebagai tanaman hutan. Kemudian pada tahun 1923, varietas POJ 2878 sebagai varietas tebu unggul yang sangat spektakuler, yang mana mampu meningkatkan produksi gula secara drastis, yaitu sekitar 35% dari varietas sebelumnya dan tahan akan penyakit sereh”, ujar Ghani.

Halaman:

Editor: Budi Nugraha

Sumber: Pers Rilis

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Semeru Awas! Hampir 2 Ribu Jiwa Mengungsi

Minggu, 4 Desember 2022 | 18:18 WIB

Prita Kemal Gani Terus Menginspirasi.

Minggu, 4 Desember 2022 | 11:46 WIB

Peneliti Asing Erik Meijaard Dilaporkan Melanggar UU

Sabtu, 3 Desember 2022 | 23:57 WIB

Gempa 6,4 Garut, BNPB Sebut Ada Warga yang Terluka

Sabtu, 3 Desember 2022 | 20:59 WIB
X