Gaduh Legislator dengan Pimpinan TNI, Kyai Marsudi Syuhud Bilang Begini

- Senin, 26 September 2022 | 20:59 WIB
Kyai Maraud Syuhud dan Kasad Jenderal TNI Dr. Dudung Abdurachman (SuaraMerdeka-jakarta/tn)
Kyai Maraud Syuhud dan Kasad Jenderal TNI Dr. Dudung Abdurachman (SuaraMerdeka-jakarta/tn)

Jenderal bintang empat ini beberapa kali tidak hadir mendampingi Panglima TNI Jenderal Andika Perkasa baik saat rapat kerja dengan DPR atau pun dalam kesempatan lainnya.

Atas indikasi itu, terlontar perkataan dari Effendi Simbolon yang menilai TNI ini seperti ormas yang pimpinannya menganggap biasa tidak patuh pada Panglimanya. Hal ini seharusnya tidak perlu terjadi.

Dengan statement tersebut, maka gegerlah kalangan TNI AD.

Atas pernyataan Effendi Simbolon tersebut akhirnya dia secara terbuka meminta maaf kepada seluruh jajaran TNI AD, termasuk kepada para purnawirawan maupun sesepuh TNI.

Rupanya permintaan maaf tersebut tidak serta merta mendapatkan respon positf dari sebagian anggota atau jajaran TNI AD.

Hari-hari berikutnya beberapa personil TNI AD serta beberapa kesatuan teritorial dari berbagai daerah mengeluarkan pernyataan keras yang diikuti dengan ancaman-ancaman mengerikan.

Melihat keadaan itu, banyak tokoh masyarakat berharap agar tindakan emosional itu segera diakhiri. Apalagi, bangsa ini sedang menghadapi masalah ekonomi yang kurang menguntungkan paska pandemi ditambah kenaikan BBM yang memicu kenaikan harga kebutuhan lainnya serta persiapan ritual demokrasi 2024 yang makin dekat dan menambah eskalasi politik semakin menghangat bahkan cenderung panas.

"Ada banyak hal yang sedang menggoncang negeri ini. Jika sekarang diikuti oleh kegaduhan antara institusi TNI AD dan DPR RI, sungguh ini bisa mengancam kestabilan bangsa dan negara kita. Karena ini dapat memengaruhi terhadap pendidikan politik yang kurang santun dan kurang bijak serta kurang mendidik akhlaq bangsa," kata Marsyudi seraya mengajak pihak-pihak yang terlibat dan masyarakat luas untuk menahan diri hingga tidak semakin memperkeruh masalah yang dihadapi bangsa dan negara kita.

Dengan menahan diri, katanya lebih lanjut, pihak-pihak yang terlibat bisa berfikir jernih. Sehingga mereka akan sadar, ada persoalan bangsa yang lebih besar yang harus mereka atasi daripada hanya sekadar menuruti emosi sesaat karena tersinggung oleh pernyataan spontan.

"Jika berstatement begitu langsung dibungkam, nanti anggota parlemen yang lain tidak akan berani bicara. Padahal di negara demokrasi sejatinya yang dibutuhkan adalah 'Annaqdu laisa alkhiqdu', kritik yang membangun bukan mencaci maki. Dan itu memang tugas mereka untuk mengawasi atau mengkritisi pemerintah. Amar ma'ruf harus dengan cara yang ma'ruf, nahi munkar juga dengan cara yang ma'ruf juga," jelas Pengasuh Pondok Pesantren Ekonomi Darul Uchwah, Depok ini.

Halaman:

Editor: Arif Muhammad Iqbal

Tags

Terkini

Ramalan Cuaca Jabodetabek pada Jumat, 3 Februari 2023

Kamis, 2 Februari 2023 | 16:43 WIB
X