Ada Jejak Ukraina Pasca Gerakan 30 September

- Jumat, 30 September 2022 | 17:54 WIB
Algooth Putranto (Budi Nugraha)
Algooth Putranto (Budi Nugraha)

Algooth Putranto--pengamat komunikasi Pasca Usahid Jakarta

Setiap akhir September, bangsa Indonesia selepas tahun 1965 selalu menempatkannya sebagai bulan yang kelabu. Ada luka sejarah yang sampai saat ini masih terus menerus dibiarkan tidak kunjung sembuh oleh negara.

Fakta bahwa komunisme di dunia jelas sudah bangkrut karena tak lagi mampu menjawab perubahan tantangan zaman tak membuat negara ini berdamai dengan masa lalu. Uni Soviet karam bersama ideologi komunisme, sementara Tiongkok secara praktek adalah kapitalis.

Bagi generasi yang melek informasi, jargon waspada bahaya komunisme yang digaungkan aparatus negara bahkan diikuti gerakan nonton bareng film dokudrama propaganda 'Pengkhianatan G 30 S PKI' karya Arifin C. Noer sekadar mengada-ada.

Repotnya urusan mengada-ada dengan serius ini biasanya makin seru dan formal tiap kali berbarengan tahun politik. Tahun ini, yah relatif sepi, justru yang ramai adalah musuh komunisme, yakni fasisme yang dikoarkan Presiden Rusia, Vladimir Putin.

Ketika seluruh dunia berusaha bangun setelah dua tahun didera pandemi Covid-19, entah bagaimana Putin seolah mendapat wangsit untuk melancarkan invasi ke Ukraina pada 24 Februari, dengan kedok operasi khusus ke Ukraina karena membangunkan setan fasisme ala NAZI jaman Adolf Hitler.

Lagi-lagi, bagi generasi yang melek informasi, omongan Putin tak ubahnya cerita kartun Masha and the Bear karya Oleg Kuzovkov dan Denis Chervyatsov. Bagaimana tidak disebut fantasi jika pada kenyataannya, fasisme di Ukraina adalah masa lalu.

Repotnya, membicarakan fasisme di Ukraina sama problematiknya dengan membicarakan komunisme di Indonesia. Keduanya sama-sama memiliki peran bagi proses kemerdekaan masing-masing bangsa.

Saya akan lebih sepakat menilai mereka sebagai kelompok nasionalis. Ini tak ada bedanya dengan bagaimana posisi Soekarno ketika secara sadar menempatkan diri sebagai kolaborator penjajah Jepang.

Halaman:

Editor: Budi Nugraha

Tags

Artikel Terkait

Terkini

KPI Siapkan 13 Inisiatif ESG pada 2023

Selasa, 29 November 2022 | 12:10 WIB

Tumben, Tiket KA Nataru Sepi Peminat, Kurang Laris

Senin, 28 November 2022 | 22:42 WIB

Yudo Margono akan Gantikan Andika Perkasa

Senin, 28 November 2022 | 18:55 WIB

Emil dan Golkar Miliki Relasi Saling Melengkapi

Senin, 28 November 2022 | 18:14 WIB

Kajati DKI, Reda Manthovani Hijaukan Jakarta Selatan

Senin, 28 November 2022 | 16:27 WIB

Komisi I DPR Dukung RKUHP Segera Tuntas

Senin, 28 November 2022 | 15:21 WIB

DPR Pastikan Terus Dukung Kemajuan Alutsista TNI

Senin, 28 November 2022 | 13:37 WIB
X