Peringati Hari Pahlawan, Ketua DPD Ingatkan Kalimat Merdeka atau Mati

- Kamis, 10 November 2022 | 15:57 WIB
Ketua DPD RI AA LaNyalla Mahmud Mattalitti (DPD RI)
Ketua DPD RI AA LaNyalla Mahmud Mattalitti (DPD RI)

SURABAYA– Peringatan Hari Pahlawan 10 November harus dimaknai dengan mengingat kembali pilihan kata yang diucapkan para pejuang kemerdekaan, yaitu Merdeka atau Mati.

Demikian dikatakan Ketua DPD RI AA LaNyalla Mahmud Mattalitti di Surabaya, Kamis (10/11/2022).
 
Kata Merdeka atau Mati, menurut LaNyalla, mungkin terasa absurd bagi generasi muda saat ini.

Baca Juga: Perlu Ruang Untuk Pendidikan Politik bagi Kaum Muda

Padahal kalimat itu adalah wujud kerelaan para pejuang demi kemerdekaan. Demi kecintaan mereka kepada tanah air. Dan demi satu harapan mulia; agar tumbuh generasi yang lebih baik.
 
“Tetapi apa yang tumbuh hari ini? Yang tumbuh subur adalah Oligarki Ekonomi yang menyatu dengan Oligarki Politik, yang menyandera kekuasaan agar berpihak kepada kepentingan mereka,” ujar LaNyalla.
 
Karena itu, tambahnya, dirinya terus meresonansikan pentingnya kesadaran kolektif berbangsa kepada seluruh elemen bangsa ini.

Baca Juga: Luhut: Presiden Putin dan Presiden Zelensky Dipastikan Absen di KTT G20 Bali

Bahwa kedaulatan rakyat harus kita rebut kembali. Karena rakyat adalah pemilik sah negara yang dipenuhi darah para pejuang ini.
 
“Dan kedaulatan hakiki serta kesejahteraan rakyat, hanya dapat diraih melalui sistem demokrasi dan sistem ekonomi Pancasila. Yang telah kita tinggalkan demi demokrasi liberal yang tidak sesuai dengan DNA dan watak dasar bangsa ini,” tukasnya.
 
Karena itu, mantan Ketua Umum PSSI itu, mengajak semua generasi muda, untuk membaca kembali pikiran-pikiran para pendiri bangsa. Serta kembali menyelami suasana kebatinan para patriot bangsa itu.
 
“Jauh sebelum Indonesia merdeka, Ki Hajar Dewantoro sudah mengingatkan, jika anak didik tidak kita ajar dengan kebangsaan dan nasionalisme, maka di masa depan, sangat mungkin mereka akan menjadi lawan kita,” tandasnya.

Baca Juga: Dukung KTT G20, DAMRI Siap Operasikan 24 Bus Listrik
 
Karena penghancuran ingatan kolektif suatu bangsa dapat dilakukan dengan metode non perang militer.

Tetapi dengan memecah belah persatuan, menguasai dan mengendalikan pikiran warga bangsa, agar tidak memiliki kesadaran, kewaspadaan dan jati diri.
 
“Dan sekarang kita menjadi bangsa yang terpolarisasi. Bangsa yang terbelah. Dan tidak mempunyai karakter serta jati diri. Karena bangsa ini dipenuhi buzzer yang menggunakan narasi kebencian dan penghinaan kepada sesama anak bangsa,” ujarnya.***

Baca Juga: Tragedi Itaewon Harus Jadi Pelajaran Berharga

Halaman:

Editor: Fauzan Jazadi

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Bupati Pesawaran Bawa Sulam Jelujur ke New York

Sabtu, 4 Februari 2023 | 19:15 WIB

Prakiraan Cuaca Jabodetabek Besok 5 Februari 2023

Sabtu, 4 Februari 2023 | 15:14 WIB

LMK Pelari Datang, Revolusi Royalti Menjelang.

Sabtu, 4 Februari 2023 | 07:55 WIB

ASEAN Tak Boleh Menjadi Proksi Pihak Mana Pun

Jumat, 3 Februari 2023 | 22:16 WIB

Kerja Sama Politik, PDIP Lihat Kesamaan Ideologi

Jumat, 3 Februari 2023 | 20:49 WIB
X