Perubahan Perilaku Penggunaan Kantong Plastik di Pasar melalui Pendekatan Agama

- Selasa, 29 November 2022 | 20:42 WIB
 (SM/Dok)
(SM/Dok)

JAKARTA, suaramerdeka-jakarta.com - Gerakan Indonesia Diet Kantong Plastik (GIDKP) gencar melakukan upaya perubahan perilaku agar penggunaan kantong plastik sekali pakai terus berkurang di Pasar Tebet Barat dengan menggandeng Lembaga Lingkungan Hidup dan Penanggulangan Bencana (LLHPB) Pimpinan Pusat 'Aisyiyah.

Tidak hanya pedagang dan konsumen, masyarakat sekitar juga dilibatkan dalam program kali ini. Berangkat dari pemikiran ilmuwan asal Columbia University, Gus Speth yang mengatakan bahwa masalah lingkungan terutama disebabkan karena keegoisan, keserakahan, dan sikap apatis dan untuk menghadapinya kita membutuhkan transformasi budaya dan spiritual.

Oleh karena itu, kolaborasi GIDKP dan LLHPB PP ‘Aisyiyah dengan pemerintah Provinsi DKI Jakarta yang didukung oleh GIZ melalui program Religious Matters bertujuan untuk mendorong perubahan perilaku pada program Pasar Bebas Plastik melalui pendekatan agama.

Program perubahan perilaku pada program Pasar Bebas Plastik kali ini dilakukan melalui
pendekatan agama Islam dengan menyesuaikan dengan situasi dan kondisi masyarakat sekitar Pasar Tebet Barat.

"Karena penduduk Indonesia mayoritas Muslim dan kerja sama kami dengan LLHPB PP ‘Aisyiyah juga sangat tepat karena (mereka) merupakan bagian dari organisasi Islam terbesar di Indonesia (Muhammadiyah)," ujar Koordinator Nasional GIDKP, Rahyang Nusantara di Jakarta pada Selasa, 29 November 2022.

Melalui kerja sama ini, lanjut Rahyang, kami berupaya untuk mengangkat pesan terkait kampanye bebas plastik dalam setiap kegiatan dengan nilai-nilai keislaman yang tidak kami lakukan pada program sebelumnya di tahun 2019.

Sementara itu, Ketua Divisi Lingkungan Hidup LLHPB PP Aisyiyah, Hening Parlan menjelaskan kalau masalah kerusakan iklim ini saja tidak bisa diselesaikan dengan pendekatan sains, dia rasa ini saatnya kita berperan untuk menjaga bumi dari kerusakan iklim dengan pendekatan spiritualitas atau dengan pendekatan agama.

"Dalam Islam juga sudah diajarkan bahwa kebersihan merupakan sebagian dari iman. Jadi, ketika penggunaan plastik sekali pakai yang berujung nyampah itu bisa mengotori bumi kita, maka kalau kita menggunakannya kita termasuk kaum yang tidak beriman," jelas Hening Parlan.

Konsumen dan pedagang, kata Hening, yang ada di Pasar Tebet Barat ini juga aktif dalam kajian yang diadakan di masjid yang ada di dekat Pasar Tebet Barat itu sendiri.

"Jadi, saya rasa ini merupakan kolaborasi yang benar-benar tepat untuk meningkatkan kesadaran masyarakat terkait bahaya plastik sekali pakai dalam sudut pandang keagamaan," katanya.

Selama hampir 10 bulan berlangsung, program ini sudah melakukan berbagai kegiatan yang melibatkan pedagang, konsumen, dan masyarakat di sekitar Pasar Tebet Barat.

Beberapa kegiatan baru yang dilakukan adalah pengadaan dropbox peminjaman kantong belanja untuk konsumen dan aktivitas bersama DKM Pasar Tebet Barat, seperti tafsir Al Qur’an, pembagian risalah Jum’at, khutbah Jum’at, dan lain sebagainya.

Adapun pencapaian yang sudah terjadi sebagai dampak kegiatan-kegiatan di atas adalah semakin menurunnya jumlah kios yang tidak menyediakan kantong plastik, dimana pada uji coba pertama turun sebesar 57 persen dan tahun ini terdapat tambahan penurunan jumlah kios sekitar hingga 17 persen yang juga berdampak pada penurunan jumlah kantong plastik.

Selain daripada itu, pedagang menunjukkan sikap dan motivasi yang tergolong tinggi dalam mengurangi plastik sekali pakai. Hal ini terjadi pada seluruh aspek, mulai dari alasan perbaikan lingkungan, petunjuk dari ustadz atau guru agama, serta yang berasal dari ajaran agama. ***

Editor: Arif Muhammad Iqbal

Tags

Terkini

Pertagas Raih 4 Penghargaan CSR & PDB Award 2023

Rabu, 1 Februari 2023 | 18:57 WIB

Gudang Kripto Gandeng Mahasiswa UNJ Bangun Negri

Rabu, 1 Februari 2023 | 15:48 WIB

Aliando Syarief Sambangi Coach Rheo

Rabu, 1 Februari 2023 | 10:48 WIB
X