LMKN Tidak Ada Gunanya?

- Sabtu, 2 Oktober 2021 | 19:40 WIB
Lesehan Musik di @Club House Lesehan Musik, Jumat, 1 Oktober 2021, mulai pukul 20.00 hingga 0.30 dini hari. (Bb)
Lesehan Musik di @Club House Lesehan Musik, Jumat, 1 Oktober 2021, mulai pukul 20.00 hingga 0.30 dini hari. (Bb)

Oleh Benny Benke.

JAKARTA, Jakarta.Suaramerdeka.com,-
Lembaga Manajemen Kolektif Nasional (LMKN) Tidak ada gunanya. Bukan semata gagal mensosialisasikan aturan main pemungutan dan pembagian royalti kepada pencipta lagu.

Tapi juga tidak berhasil menjadi bagian aktif dalam menyehatkan ekosistem industri musik Indonesia. Apalagi mau memuliakan pencipta lagu, sebagai pemilik hak pertama dan utama dari royalti musik.

Tidak perlu saya sebutkan, siapa yang dengan terang benderang mengatakan hal itu, tapi Anda tuan dan puan, bisa menanyakan langsung kepada puluhan persona yang mengikuti diskusi Musik Royalti Kenapa Mesti Ribut yang diinisiasi Lesehan Musik di @Club House Lesehan Musik, Jumat, 1 Oktober 2021, mulai pukul 20.00 hingga 0.30 dini hari.

Intinya, tidak ada keterbukaan di sana (LMKN), sehingga tidak ada simpulan yang mustahak dan mangkus dalam obrolan warung kopi, yang juga menghadirkan perwakilan LMK, LMKN, publisher, label, dan sejumlah penggiat musik lainnya. Juga tak ketinggalan beberapa nama musisi, dan pewarta tentunya.

Sampai Badai, anak muda yang dikenal sebagai motor dan pemikir grup band Kerispatih ini berpikir ribuan kali, untuk bertahan dan tetap mencari nafkah di industri musik Indonesia, jika ekosistem permusikannya masih carut marut dan lintang pukang pengelolaannya.

Yang mempunyai kecenderungan, hanya menyejahterakan pengelola (operator) - nya belaka. Yang notabene hidup, makan, dan mempertahankan nafkahnya dari hasil kreatifitas pencipta lagu. So sweet.

"Saya 2000 kali berpikir ulang untuk tetap menjadi musisi (di Indonesia), karena iklim industri musiknya tidak sehat. Ketidaksehatan itu timbul karena, hak yang paling dasar dari pencipta lagu seperti saya, tidak mendapatkan perlakuan yang sepantasnya. Dalam artian, posisi pencipta lagu tidak terlindungi, bahkan oleh UU karena hak ekonominya tidak didapatkan," kata Badai masygul.

Kejujuran Badai sebagai pencipta lagu, sangat wajar dan manusiawi sekali. Mungkin Badai sudah muak berdiam diri, karena memendam kemangkelannya seorang diri. Sebagaimana metabolisme dasariah manusia, dia butuh pelepasan. Karenanya dia mengeluarkan semua yang ada di benaknya.

Halaman:

Editor: Budi Nugraha

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Menimbang Gibran di Pilgub Jateng.

Jumat, 3 Februari 2023 | 06:35 WIB

Bela Negara, Bukan Sekadar Aksi Angkat Senjata

Kamis, 2 Februari 2023 | 23:03 WIB

Bela Negara dan Persepsi Publik

Kamis, 2 Februari 2023 | 22:43 WIB

KSP: Copot 2 Menteri PKB!

Selasa, 24 Januari 2023 | 17:09 WIB

Menimbang Biaya Haji di Indonesia.

Selasa, 24 Januari 2023 | 10:24 WIB

Jabatan Itu Memabukkan, Pak Kades!

Rabu, 18 Januari 2023 | 23:25 WIB

Kades Maju Tak Gentar Demi 9 Tahun Jabatan

Selasa, 17 Januari 2023 | 02:30 WIB

Narcissus Masa Kini

Kamis, 12 Januari 2023 | 14:05 WIB

Abimanyu Wachjoewidajat : Terkait KDRT Venna Melinda

Selasa, 10 Januari 2023 | 16:48 WIB

Heboh, Viral Muncul Mata Air Di Dekat Makam Eril

Sabtu, 7 Januari 2023 | 15:05 WIB

Indonesia dan 100 Tahun NU.

Jumat, 6 Januari 2023 | 06:06 WIB
X