Penyair Dungu

- Minggu, 28 November 2021 | 07:28 WIB
Anggota Dewan Juri Lomba Baca Puisi Antar Wartawan Se-Indonesia, dalam rangka Ultah Golkar ke-56, 2020. Wina Armada Sukardi, SCB, Lola Amaria, BB (belakang).  (Dok Bb)
Anggota Dewan Juri Lomba Baca Puisi Antar Wartawan Se-Indonesia, dalam rangka Ultah Golkar ke-56, 2020. Wina Armada Sukardi, SCB, Lola Amaria, BB (belakang). (Dok Bb)

Hari ini setahun lalu lebih, 26 Oktober 2020, ada beberapa peristiwa yang patut dan harus dikenang, untuk bahan pembelajaran. Sebagian lain boleh dilupakan sama sekali. Yang ini, tidak boleh dilupakan, tapi tetap dimaafkan.

//Kami haqqul yakin, bahkan SCB pun tampaknya sengaja dikelabui untuk pemilihan pemenang pertama ini. Sayang sekali, karena nila setitik rusak susu sebelanga. Karena pengumuman pemenang pertama yang manipulatif, akhirnya tidak ada satupun kebaikan yang bisa diingat dari kerja keras kebudayaan yang dilakukan Partai Golkar melalui lomba ini. Sungguh sangat mengecewakan//

Jakarta.Suaramerdeka.com — Kutipan langsung dari berita yang dikirimkan bang Isbedy Setiawan ZS dari laman https://www.rmollampung.id/tuai-protes-lomba-baca-puisi-hut-ke-56-partai-golkar, berhasil membuat saya terbahak, saat kali pertama membacanya.

Ketika link berita yang sama dikirimkan mas Can (Putu Fajar Arcana), saya hanya membalasnya; “Dungu”, atas kutipan berita itu.

Saya bahkan diam-diam merasa welas asih dengan saudara Ramon Damora. Yang melemparkan berondongan tuduhan yang berangkat dari asumsi belaka. Sembari menyiramkan opini ngawurnya. Atas nama apa saja. Yang seharusnya tidak dilakukan oleh seorang penyair yang konon sesak dengan adab, bahkan dari caranya berpikir.

Saat link berita yang sama saya kirimkan ke Lola Amaria. Apa tanggapan Lola? “Aku ji#+k bacanya. Sotoy amat”.

Bagaimana dengan tanggapan mas Wina (Armada Sukardi)? “Iya. Saya Uda baca . Uda, biarin aja..nanti saya tulis sedikit penjelasan,” katanya.

Sedangkan Bang Tardji (Sutardji Calzoum Bachri), sebagaimana seorang resi, diam saja. Membiarkan kita menafsirkan keheningannya. Berspekulasi dengan semiotika.

Kalau benar yang disangkakan saudara Ramon, jika saya, mungkin juga Lola dan mas Wina “sengaja mengelabui” SCB demi menyenangkan dan memenangkan Pangeran Negara menjadi juara pertama, luar biasa sekali kita, mampu mengelabui SCB.

Halaman:

Editor: Budi Nugraha

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Melalui Puisi Sangkan Paraning Dumadi

Rabu, 19 Januari 2022 | 17:16 WIB

Remy Sylado: Hadir atau Tersingkir

Kamis, 13 Januari 2022 | 17:37 WIB

Bagai Pungguk Merindukan Nobel

Kamis, 13 Januari 2022 | 07:36 WIB

Sakramen Untuk Mas Remy Sylado

Rabu, 12 Januari 2022 | 09:24 WIB

Di Negeri Demokrasi Puisi (masih) Ditakuti (?)

Kamis, 6 Januari 2022 | 08:15 WIB

Kerapuhan, dan Ketabahan

Jumat, 31 Desember 2021 | 22:48 WIB

Tanggapan Atas Tulisan Tuan Kadri Sutan Bandaro

Selasa, 28 Desember 2021 | 10:05 WIB

Asnawi Mangkualam Bahar Adalah Kunci

Minggu, 26 Desember 2021 | 17:42 WIB

Selayaknya Ulama Jaga Jarak dari Umara

Kamis, 23 Desember 2021 | 21:41 WIB

Ironi Ayo Ke Bioskop PEN Film

Senin, 20 Desember 2021 | 16:56 WIB

Profesi Advokat

Sabtu, 18 Desember 2021 | 10:16 WIB

Kelompok Sakit Hati PENFilm

Kamis, 16 Desember 2021 | 13:22 WIB

Anomali Indonesia

Kamis, 16 Desember 2021 | 10:40 WIB

Erupsi Gunung Es PEN Film

Selasa, 14 Desember 2021 | 20:09 WIB
X