Mercon Banting Pesta PEN Subsektor Film

- Jumat, 10 Desember 2021 | 07:42 WIB
Akhlis Suryapati (Dokumen Pribadi)
Akhlis Suryapati (Dokumen Pribadi)


Oleh Akhlis Suryapati 

Jakarta.Suaramerdeka.com,- Isu Skandal PEN Subsektor Film bak letusan kecil di tengah pesta glamour api unggun perfilman. Siaran Press resmi Kemenparekraf terbaru (9 Desember 2021), dengan menggunakan sumberdaya kehumasan yang dimiliki, menebar pesona kekuasaan melalui publikasi masif yang sekaligus melindas teriakan ketidakadilan yang disuarakan Kongres Peranserta Masyarakat Film.

Bancakan skema Promosi Film, Produksi Film Dokumenter Pendek dan Film Cerita Pendek, serta Pra-Produksi, berlangsung tanpa rikuh, tentu oleh mereka yang menjadi bagian dari pesta itu.

Pada suasana seperti ini, terlihat bahwa virus ego sektoral yang mewabah di ekosistem perfilman nasional berhasil dipelihara oleh pemerintah – dari rezim ke rezim – melalui apa yang sering saya metaforakan sebagai ‘politik bagi-bagi permen dan fasilitasi belah bambu’

Baca Juga: FESMI Pertanyakan Permohonan Pengujian UU Hak Cipta 2014 ke MK

Letusan kecil isu skandal PEN Subsektor Film itu seperti mercon banting (petasan) mainan anak-anak. Bikin kaget sejenak, namun tak terlalu digubris, apalagi sampai menghentikan pesta. Anak-anak pemantik mercon itu akan kagok, tuding-tudingan sendiri, atau beringsut letih, ketika dibuzzer oleh sorak-sorai pesta, juga serangan balik layaknya sebuah isu skandal. 

Ini semua adalah percikan dampak dari mewabahnya ego sektoral dalam masyarakat perfilman sepanjang dua dekade, dimulai sejak perfilman nasional bangkit kembali (tahun 2000) paska mati suri – berlanjut hingga menjelang tahun 2022 ini.

Wabah ego sektoral kiranya lebih awet dari virus Covid-19, dengan variannya yang juga bertingkat-tingkat. Kini menjelmakan sebuah kekuasaan (perfilman) yang melahirkan rasa ketidakadilan tanpa perlu merasa bersalah. Atau produk ketidakadilan itu dianggap sebagai kebenaran, karena menurut penguasa: “Tidak mungkin sebuah kebijakan menyenangkan semua pihak.” 

“Jadi kita biarkan seperti ini saja ya, Mas?” tanya beberapa orang, insan film juga, datang ke Pusat Perfilman H Usmar Ismail. Mereka tentu saja tidak sedang ikut pesta. Sebagian yang sedang dibuzzer sebagai ‘kelompok sakit hati, barisan yang tidak kebagian, orang film yang kecewa’.

Halaman:

Editor: Budi Nugraha

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Kekalahan itu Guru.

Rabu, 30 November 2022 | 04:34 WIB

Selamat Milad Maston Lingkar

Sabtu, 26 November 2022 | 13:28 WIB

Peringatan Hari Guru dalam Sastra.

Sabtu, 26 November 2022 | 09:06 WIB

Aku Berbiak di Gadgetmu.

Rabu, 23 November 2022 | 11:06 WIB

Garis-Garis Manis Made Kaek

Jumat, 18 November 2022 | 09:37 WIB

Absolutisme Kebiasaan yang Mematikan.

Sabtu, 12 November 2022 | 09:28 WIB

Sebuah Refleksi: Menelisik Film Indonesia

Minggu, 30 Oktober 2022 | 06:53 WIB

Quo Vadis DKJ dan Musyawarah Burung.

Kamis, 27 Oktober 2022 | 08:09 WIB
X